Citizen Journalism

MEMAKNAI KEPAHLAWAN SUHARTO SECARA BERKEADABAN

Presiden Indonesia kedua Alm. Suharto sudah masuk ke dalam daftar tunggu untuk mendapatkan gelar kemormatan sebagai pahlawan nasional.

MEMAKNAI KEPAHLAWAN SUHARTO SECARA BERKEADABAN
internet
Presiden ke-2 Indonesia Soeharto 

Suharto adalah pemimpin besar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini.

Dalam kapasitasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan kurang lebih selama 32 tahun, begitu panjang daftar prestasi yang telah diukirkannya untuk negeri ini.

Di eranya, tepatnya pada tahun 1984 Indonesia bukan saja berhasil mewujudkan swasembada pangan melainkan mampu memberikan solusi atas persoalan kepalaran yang diderita oleh masyarakat dunia (Otobiografi Suharto dikutip oleh Harwanto: 2015).

Masih di zamannya, stabilitas politik, pemerintahan, keamanan dan pertahanan mampu dikendalikan sehingga roda perekonomian masyarakat pun tumbuh dan berkembang.

Namun di balik capaian-capaian yang gemilang tersebut sebagian orang menilai terdapat sisi gelap dari kepemimpinan beliau, mulai dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anti kemanusiaan karena pendekatan militeristik yang ditempuh untuk menjawab ancaman disintegrasi atau tuntutan para demonstran, anti demokrasi dan lain sebagainya.

Perlu untuk dipahami sebagai pemimpin, Suharto mengambil segala kebijakannya atas dasar kebenaran relatif.

Sebuah kebenaran yang dihasilkan melalui sudut pandang tertentu guna merespon tuntutan masyarakat, bangsa dan negara di zamananya.

Maka, tidak arif kiranya apabila kita menilai kebijakan-kebijakan hanya didasarkan pada persfektif yang dibangun oleh dinamika ruang dan waktu kita hari ini.

Karena dipastikan produk kebenarannya tiadak akan sama, bahkan tidak menutup kemungkinan bertolak belakang.

Bukankah tapal batas kebenaran umat manusia hanya lah kebenaran yang tidak tetap, selalu berubah-ubah karena mengadaptasi pergeseran ruang dan waktu (relativisme).

Selain itu, Suharto adalah mantan pemimpin bangsa yang besar dan majemuk dengan kompleksitas tantangan, tuntutan dan ancamannya.

Maka hampir tidak mungkin kebijakannya mampu memuaskan semua pihak.

Namun dengan nasionalisme, kelompok yang merasa dirugikan atau tidak diuntungkan mesti mampu bersikap legowo atau lapang dada dengan melihat kepentingan yang lebih besar (bangsa dan negara).

Di bagian akhir ini, penulis ingin menegaskan sebuah sikap.

Suharto adalah putra bangsa yang telah mempersembahkan prestasi, karya, perjuangannya yang luar biasa untuk bangsa dan negara ini.

Namun bagaimanapun juga beliau bukan lah sosok yang suci, sempurna tanpa cacat.

Selama masa kepemimpinanya terdapat ruang-ruang kosong yang perlu untuk disempurnakan oleh generasi penerusnya demi terwujudnya kesejahteraan secara adil dan merata.

Bukan sebaliknya, kekurangannya tersebut dijadikan pembenaran untuk mengerdilkan makna dari perjuangannya yang telah dinikmati oleh bangsa ini, sehingga tidak mengakui tindakan-tindakan kepahlawanannya. (*)

Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved