KALEIDOSKOP KEPRI 2015
KASIHAN, Bayi dengan Tali Pusat Sudah Mengering Ini Dibuang Orangtuanya
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu meringkuk di dalam sebuah kardus. Diduga bayi itu sengaja dibuang oleh orangtuanya.
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Syamsil (40) sekeluarga mendadak terbangun setelah mendengar suara tangisan persis di depan rumah, Minggu (22/3/2015) dini hari. Mereka semakin terkejut karena suara tangis bayi itu sangat dekat dengan mereka.
Kekagetan Syamsil semakin bertambah karena bayi yang menangis itu ternyata tergeletak di depan pintu rumahnya. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu meringkuk di dalam sebuah kardus. Diduga bayi itu sengaja dibuang oleh orangtuanya.
"Waktu itu sekitar pukul 02.00 WIB. Kami sekeluarga sudah tidur. Istri saya, Turaiti (45), paling pertama dengar suara bayi. Dia takut, makanya dia panggil saya. Saat buka pintu, saya temukan bayi diletakkan di dalam kardus, persis di depan pintu," ungkap Syamsil kepada awak media di Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Bukit Bestari Tanjungpinang, Minggu sore.
Syamsil sendiri mengaku heran saat melihat bayi di depan rumahnya di Jalan Kampung Kolam, RT 04/RW IV Kelurahan Sungai Jang Kecamatan Bukit Bestari itu.
Dia memang mendengar suara gonggongan anjing sekitar satu jam sebelum bayi itu terdengar menangis. Namun, dia sama sekali tidak mendengar derap langkah kaki seseorang mendatangi rumahnya.
"Sekitar satu jam sebelum bayi terdengar menangis, saya sempat terbangun. Udara malam itu memang agak panas. Saya terbangun untuk memindahkan kipas angin ke kamar. Saya sempat dengar suara gonggongan anjing, tapi tak dengar langkah kaki orang," tambah pria yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta di Pasar Baru, Tanjungpinang ini.
Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati Syamsil, Tuariati dan Vicky, anaknya, saat melihat bayi ini. Mereka senang karena menemukan bayi yang masih hidup.
Namun, pada saat bersamaan, mereka juga merasa kasihan akan nasib bayi ini. Ketiganya pun mendadak takut lalu bingung harus mengambil langkah apa untuk menyelamatkan bayi tersebut.
Bayi malang ini diletakkan dalam kardus air mineral merk Sanford. Dia dibaringkan di atas tumpukan pakaian yang masih terlihat baru dan dikelilingi oleh kotak bedak dan beberapa botol minyak yang biasa dipakai untuk mengoles tubuh bayi setelah dimandikan.
"Kami tidak mau sentuh dahulu kardus itu. Kami takut. Saya suruh istri saya beri kabar kepada tetangga supaya mereka tahu kondisi bayi ini. Saat itu saya juga melaporkan penemuan bayi tersebut kepada Pak Zul, Ketua RT 04. Dia lalu datang. Barulah setelah itu kami sepakat untuk membawa bayi itu ke dalam rumah," jelas Syamsil.
Di dalam rumah, Syamsil dan Turiati mengamati dengan saksama kondisi bayi tersebut. Mereka menduga usia bayi itu baru beberapa hari. Tali pusar bayi itu masih ada namun sudah mulai mengering.
Kondisi bayi tersebut tampak cukup memprihatinkan. Dia memiliki luka di mata sebelah kanan sehingga matanya membengkak dan mengeluarkan nanah. Luka itulah yang membuat bayi ini agak tak nyaman dan selalu menangis.
"Mungkin matanya kena benturan sehingga bengkak dan mengeluarkan nanah. Dia menangis terus. Mungkin dia kesakitan," kata Syamsil sambil.
Syamsil kemudian membawa bayi itu ke Kantor Polsek Bukit Bestari, Minggu (22/3), sekitar pukul 11.00 WIB. Sepanjang dini hari hingga siang itu, Syamsil terus memikirkan siapa gerangan yang meletakkan bayi itu di depan rumahnya.
Dia lalu mengingat seorang remaja yang sebulan sebelumnya sempat mendatangi rumahnya. Remaja yang membawa buku dan pena tersebut sempat menanyakan kondisi keluarganya.
"Memang ada anak gadis datang ke rumah saya sekitar sebulan yang lalu. Dia tampak seperti mahasiswi. Dia tanyakan saya punya anak kecil atau tidak. Kepada tetangga, dia tanyakan hal yang sama. Saya heran, kok dia datang sendiri. Biasanya, mereka selalu datang ramai-ramai. Tapi saya sudah lupa orangnya. Sebab, saat itu, saya sedang terburu-buru untuk antar istri saya yang bekerja di kedai nasi," cerita Syamsil sedikit curiga. (Tribun Batam/tom)