Ini Curhat Pedagang Oleh-oleh di Karimun, Ini Harapan Mereka
Sejumlah pelaku UKM seperti pedagang oleh-oleh di Karimun mengeluhkan turunnya pendapatan akibat sepinya pembeli. Ini curhat mereka
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Banyak cara dilakukan untuk mempromosikan kerajinan tangan hingga kuliner asli sebuah daerah.
Di antaranya mengikuti bazaar, menawarkan melalui dunia maya hingga membuka kios di sejumlah tempat yang dianggap strategis dan menjadi berkumpulnya wisatawan mancanegara hingga domestik.
Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Gerai UKM Kerajinan Karimun yang ada di Pelabuhan Taman Bunga Kabupaten Karimun.
Di gerai UKM ini, berbagai jenis kerajinan tangan asli Kabupaten Karimun dipajang dan ditawarkan kepada calon penumpang kapal ferry yang akan berangkat ke berbagai daerah di Kepri.
Seperti kerajinan tangan dari bahan daur ulang seperti bungkus kopi, permen hingga anyaman kayu dalam bentuk keranjang, tempat tisu, kaus bermotif Kabupaten Karimun, topi hingga alat penutup makanan.
Selain itu, di tempat ini juga ditawarkan berbagai makanan ringan asli Karimun. Seperti Kerupung udang asli Moro, kerupuk ikan, hingga kue bangkit.
"Setiap akhir pekan, biasanya ramai para pekerja dari beberapa perusahaan yang membeli untuk oleh-oleh ke keluarga maupun kerabat mereka.
Namun juga ada Wisatawan mancanegara yang datang dan membeli souvenir yang mereka anggap unik," Kata Misdi, salah satu pedagang binaan Dinas Koperasi Kabupaten Karimun saat ditemui Tribun Batam, Minggu(11/9/2016) sore.
Untuk harga yang ditawarkan, tambah Misdi, sangatlah bervariasi. Mulai dari Rp 90 ribu hingga ratusan ribu rupiah.
"Harga sangat bersaing dan terjangkaulah. Harganya pun dilihat dari jenis dan tingkat kesukarannya dalam membuatnya. Tapi mayoritas wisatawan mancanegara lebih memilih kaus dan kerajinan. Sedangkan wisatawan domestik lebih memilih kaus dan makanan ringan," jelas Misdi lagi.
Namun demikian, gerai UKM yang diresmikan oleh Nurdin Basirun yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati Karimun, kini mengalami kemerosotan pendapatan.
Setelah posisi gerai UKM yang saat ini berada di dalam pelabuhan keberangkatan domestik sudah tidak dilirik calon pembeli.
"Kalau dulu, banyak yang lihat karena letaknya sangat strategis. Kini setelah ada renovasi, posisi gerai kami berada di sudut. Dan akses jalannya sudah tidak seperti dulu lagi," terang Yusnelfi, istri Misdi yang saat itu membantu menjagai Gerai UKM milik suaminya.
Untuk pendapatan dalam satu bulannya saja, ternag Yusnelfi, sudah sangat jauh dari biasanya. Terkadang bisa Rp 1 jutaan saja sudah untung. Namun kini, untuk mencapai angka segitu tidak sanggup.
"Sebelum seperti ini, pendapatan kita bisa Rp.3 jutaan, terlebih lagi pada hari Sabtu dan Minggu. Namun kini kurang dari Rp 1 jutaan," timpal Misdi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ukm-karimun_20160914_114558.jpg)