Gempa di Aceh

BNPB Berikan Perhatian Khusus Bantuan Susu Formula, Tak Ingin Terulang Kejadian Jogja. Ada Apa?

BNPB memberikan perhatian khusus bantuan susu formula. Mereka tak ingin kejadian Jogja terulang di Aceh. Ini penjelasannya

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Warga korban gempa mengungsi sementara di Masjid Jami Al-Istiqamah Rhieng di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie jaya, Aceh, Kamis, (8/12/2016). Gempa-gempa susulan yang masih terjadi sejak kemarin membuat seluruh warga yang menetap di Kabupaten Pidie Jaya memanfaatkan masjid sebagai tempat tinggal sementara 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Masyarakat diminta memperhatikan beberapa hal sebelum memberi bantuan kepada warga yang menjadi korban gempa di Aceh.

Salah satunya, sebelum memberikan bantuan berupa susu formula kepada anak dan balita yang membutuhkan dalam keadaan darurat.

Hal tersebut dikatakan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (11/12/2016).

"Masyarakat dan semua pihak untuk memperhatikan jenis bantuan yang diperlukan. Niat baik untuk membantu sesama sebaiknya tidak malah menimbulkan masalah baru, khususnya bagi bayi dan balita di pengungsian," ujar Sutopo.

Sutopo mengatakan, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Air susu ibu adalah makanan yang paling sempurna bagi bayi.

Selain itu, menyusui dalam kondisi darurat menjadi lebih penting karena terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar dan kesinambungan tersedianya susu formula dalam jumlah yang memadai.

Pemenuhan kebutuhan bayi melalui susu formula juga sebenarnya tidak terlalu baik. Pemberian susu formula bisa meningkatkan risiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi.

Menurut Sutopo, berdasarkan pengalaman sebelumnya saat tanggap darurat bencana, susu formula dan susu bubuk adalah bantuan yang umum diberikan dalam keadaan darurat.

Namun, produk-produk ini seringkali dibagikan tanpa kontrol yang baik dan dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih harus menerima ASI.

"Seperti saat gempa di Yogyakarta, kasus penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula, dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu," kata Sutopo.

Pengawasan ketat

Menurut Sutopo, donasi susu formula dan produk bayi lainnya seperti botol, dot, empeng, harus mendapat persetujuan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui. Sementara, bagi bayi tanpa ibu, harus dicarikan ibu yang masih memiliki ASI.

Jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut. Namun, perlu dipastikan susu dan alat-menyusui di bawah pengawasan yang ketat. Kemudian, kondisi kesehatan bayi terus diperhatikan.

Botol bayi sebaiknya tidak digunakan karena berisiko terkontaminasi. Gunakan sendok atau cangkir untuk memberikan susu kepada bayi.

Jika ada bayi yang tidak bisa disusui karena alasan medis, dia harus selalu di bawah pengawasan ketat petugas kesehatan terlatih. Selain itu, lanjut Sutopo, pastikan terdapat sarana air bersih yang memadai dan peralatan penyiapan yang higienis.(*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved