Tower Sudah Tumbang, Tapi Kami Bayar Rp 400 Ribu. Inilah Curhat Warga Tambelan Soal Sinyal Telepon!
Warga Tambelan curhat susah sinyal bertelepon. Anehnya, meski tower sudah rubuh warga tetap bayar Rp 400 ribu. Ada apa?
Penulis: Thom Limahekin |
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG-Tower di desa Pulaupinang Kecamatan Tambelan kabupaten Bintan sudah tumbang.
Masyarakat di sana tidak bisa menggunakan telepon seluler untul berkomunikasi.
Sebab, jaringan telekomunikasinya tidak ada.
Baca: Wanita Ini Terpaksa Ngaku Diperkosa karena Takut Ketahuan Selingkuh, Ini Kronologinya
Baca: Ehem! Akui Berselingkuh lalu Menikah, Artis Cantik Ini Hidup Bahagia Meski Pernah Dihujat
Baca: Buat Beri Pelajaran Korban dan Selingkuhannya, Brigadir Medi Terima Uang Eksekusi Rp 10 Juta
Baca: Heboh! Tak Sadar Kencani Waria, Barangnya Dibawa Kabur Usai Begituan di Gang Sepi
"Towernya sudah tumbang. Makanya kami tidak bisa dapat jaringan," ungkap Mustada, sekretaris desa Pulaupinang seusai menghadiri rapat koordinasi pembahasan masalah telekomunikasi di kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kepri, Kamis (13/4) sore.
Kendatipun demikian, masyarakat tetap membayar pajak pembangunan tower tersebut.
Mustada mengatakan, setiap tahun desa Pulaupinang harus membayar Rp 400 ribu untuk pejak bumi dan bangunan (PBB) untuk tower tersebut.
"Pajak tower tetap kita bayar kendatipun towernya sudah tumbang," ujar Mustada lagi.
Desa Pulaupinang didiami oleh 85 kepala keluarga (KK).
Ada 200 jiwa penduduk yang menetap di pulau tersebut.
Untuk bisa berkomunikasi dengan pihak luar, masyarakat di pulau ini hanya mengandalkan jaringan telekomunikasi yang dipancarkan dari sebuah tiang tower.
Namun, tian tower itu sudah tumbang sejak 2014 silam.
"Kami sering gunakan radio pantai milik nelayan untuk berkomunikasi dengan pihal lain di Tambelan jika kami butuh bahan makanan," ujar Mustada. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kades-pulau-pinang-tambelan_20170413_191514.jpg)