Cahaya Ramadan

Indonesia Rumah Kita

Bahkan kata Indonesia adalah ciptaan orang asing yang berkonotasi posisi geografis, bukan nama bangsa.

WIKIPEDIA
Komarudin Hidayat 

JIKA disebut Indonesia, bisa jadi yang terbayang adalah entitas bangsa, institusi negara, teritori yang terdiri atas puluhan ribu pulau dan hamparan lautan, atau himpunan sekira 235 juta orang yang terdaftar sebagai warganya.

Istilah dan konsep bangsa sejak awal kemerdekaan sudah disadari mengandung problem serius karena ketika Bung Karno-Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa Indonesia belum terwujud sosoknya secara jelas dan utuh.

Saat itu hanya ada the imagined Indonesia, cita-cita politik yang menyatukan sekian ratus suku di Nsantara ini dalam rumah besar bernama negara Indonesia.

Bahkan kata Indonesia adalah ciptaan orang asing yang berkonotasi posisi geografis, bukan nama bangsa.

Oleh karenanya Bung Karno-Bung Hatta tidak saja dinobatkan sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga perajut dan pendiri bangsa.

Mereka menangkap semangat penduduk Nusantara untuk memiliki rumah bangsa dan negara berdaulat dan bermartabat setelah ratusan tahun dihina serta diperas oleh kekuatan penjajah.

Dalam teori politik dikenal istilah sosial kontrak, yaitu warga negara menyerahkan kedaulatannya pada pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan, keamanan, serta mencerdaskan anak keturunannya.

Lalu pemerintah sebagai mandataris menerima dan bertanggung jawab atas kepercayaan diberikan rakyat, dengan imbalan otoritas politik, fasilitas, serta gaji yang disepakati.

Namun pada kenyataannya, kita menjadi warga negara ini bukan produk pilihan suka rela dan kontrak sosial, melainkan takdir sejarah. Pemerintah mungkin memandang kekuasaannya merupakan hasil dari perebutan menggunakan biaya mahal sehingga tak merasa salah ketika berfoya-foya menikmati fasilitas negara.

Takdir sebagai warga Indonesia mirip keberagamaan seseorang, yang pada umumnya produk takdir historis-sosiologis, bukan perjuangan dan pilihan sadar sebagaimana seseorang menjadi sarjana. Namun, masih tetap terbuka peluang bagi seseorang untuk memilih agama dan warga negara yang dimaui setelah dewasa.

Gambaran sekilas, potret nusantara ini dari zaman ke zaman ada aspek yang tidak berubah. Yaitu selalu menjadi obyek kontestasi kekuatan asing, berkolaborasi dengan aktor-aktor anak bangsa.

Jadi, siapa nakhoda yang mengendalikan Indonesia? Tak bisa diingkari banyak kekuatan dan budaya asing yang sangat besar jasanya dalam memajukan paradaban nusantara, terutama pengaruh pendidikan asing dan penetrasi budaya agama.

Baik Hindu, Budha, Islam, maupun Kristen semuanya adalah agama pendatang yang telah berjasa memajukan peradaban Nusantara. Sekarang ditambah lagi Konghucu.

Uniknya, ketika agama itu masuk dan tumbuh di Indonesia justru lebih kreatif sehingga melahirkan budaya keberagamaan yang inovatif, sintetis, dan lebih estetis dibanding di tempat asalnya.

Nilai keindonesiaan
Secara normatif-ideologis nilai-nilai luhur bangsa Indonesia tercantum dalam Pancasila, yang memiliki akar kultural-filosofis ke masa lalu dan hidup dalam masyarakat. Selain itu sekaligus visioner menatap dan menjangkau masa depan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved