Sempat Sukses Buka RM, Arab & 7 Anaknya Kini Hidup Susah di Gubuk Reok di Pelantar Tanjungriau

Diceritakan Sarah, karena persaingan bisnis, terkadang di kedai nasinya ada ditemukan ulat hingga tidak ada lagi yang membeli di warung nasi mereka.

tribun batam
Gubuk reok di atas pelantar yang ditinggali keluarga Arab di Tanjungriau, Sekupang, Batam, Rabu (28/2/2018). 

TRIBUNBATAM.id BATAM - Kehidupan keluarga H Arab (60) di RT 06 RW 01 kawasan Tanjungriau, Sekupang, Batam sangat memprihatinkan.

Tempat tinggal dia dan istri, Sarah (40), beserta tujuh anaknya jauh dari kata layak.

Sehari-hari mereka tinggal di gubuk reok di pelantar. Gubuk itu dibangun dari kayu seadanya dengan dinding dari kardus bekas dan atap dari seng seadabta.

Arab dan Sarah beserta sembilan anaknya setiap hari tidur di dalam kamar yang berukuran 3x4 M.

Di sana, hanya ada satu kasur yang sudah tipis. Kasur itu hanya bisa menampung dua orang anak mereka yang masih kecil.

Sementara dia dan anak-anaknya yang lain tidur di lantai beralaskan apa saja.

Gubuk reok di atas pelantar yang ditinggali keluarga Arab di Tanjungriau, Sekupang, Batam, Rabu (28/2/2018).
Gubuk reok di atas pelantar yang ditinggali keluarga Arab di Tanjungriau, Sekupang, Batam, Rabu (28/2/2018). (tribun batam)

Sudah dua bulan ini Abu dan keluarga tinggal di sana.

Gubuk yang ditinggali dia dan keluarganya adalah milik warga setempat. Dia  memperbaiki rumah tersebut dengan menggunakan sisa kayu dan alat seadanya.

Saat ditemui TRIBUNBATAM.id, Arab menceritakan sudah tiga tahun tinggal di Tanjungriau dan tiga kali berpindah rumah di sekitar sana.

"Beginilah keadaan rumahnya. Ini dikasih tumpangan oleh warga juga. Kita benarin sedikit demi sedikit kalau ada rejeki," katanya, Rabu (28/2/2018).

Baca: Ibu Ini Bunuh Diri Tepat di Samping Anaknya yang Sedang Duduk

Baca: Dikejar-kejar Pemburu Paedofil, Tukang Kebun Ini Pilih Bunuh Diri

Baca: Jaringan Togiman, Tersangka Pencucian Uang Rp 6,4 Triliun Hasil Narkoba Diciduk. Begini Modusnya

Tinggal di gubuk reok, apalagi di atas pelantar yang notabene berada pinggir laut tidaklah senyaman jika tinggal di atas daratan.

Setiap malam, angin laut berembus kencang dan dinginnya menembus tulang. Mereka sangat bersyukur angin tidak sampai meluluklantakkan gubuk itu.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved