Pierre Tendean Korban G30S/PKI, Gugur karena Ngaku Jadi Jenderal Nasution
Dari ketujuh perwira tinggi TNI itu, satu di antaranya adalah Pierre Andreas Tendean.
Dilansir Tribunjabar.id dari Kompas, hal ini terbukti dari berebutnya tiga jenderal untuk menjadikan Pierre Andreas Tendean sebagai ajudan.
Baca: Pasukan Pengawal Presiden Soekarno Dibubarkan Gara-gara G30S PKI
Baca: Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk, Ini Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup
Baca: Selepas G30S/PKI, Soeharto Bawa Benda Ini Sebagai Bukti Pengkhianatan PKI pada Soekarno
Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Jenderal Hartawan, dan Jenderal Kadarsan.
Dari ketiga jenderal itu, Jenderal AH Nasution lah yang mendapatkan sosok Pierre Andreas Tendean.
Hal ini disebabkan Jenderal AH Nasution disebut sant menginginkan Pierre Andreas Tendean menjadi ajudannya.
Akhirnya, Pierre Andreas Tendean pun menjadi menggantikan ajudan sebelumnya, Kapten Manullang.
Kapten Manullang gugur saat bertugas di Kongo untuk menjaga perdamaian.
Pierre Andreas Tendean pun dipromosikan sebagai Letnan Satu (Lettu).
Lettu Pierre Tendean pun menjadi ajudan Jenderal AH Nasution termuda.
Pada usia 26 tahun, ia sudah mengawal sang jenderal ternama.
Tidak hanya mengawal Jenderal AH Nasution, Lettu Pierre Tendean pun akrab dengan putri Jenderal AH Nasution, Ade Irma Suryani.
Potret berdua mereka bahkan terpajang di Museum AH Nasution.
Namun, kisah hidup Lettu Pierre Tendean sebagai ajudan AH Nasution berakhir tragis.
Masih dilansir Tribunjabar.id dari Kompas.com, saat itu (30/9/1965) Lettu Pierre Tendean biasanya pulang ke Semarang merayakan ulang tahun sang ibu.
Namun, ia menunda kepulangannya karena tugasnya sebagai pengawal Jenderal AH Nasution.
Ia tengah beristirahat di ruang tamu, di rumah Jenderal AH Nasution, Jalan Teuku Umar Nomor 40, Jakarta Pusat.