Kamis, 7 Mei 2026

BATAM TERKINI

Dampak Virus MR Luar Biasa, Dinkes Kepri Ajak MUI Sosialisasi Pemberian Vaksin

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana berharap pelaksanaan imunisasi Measle-Rubella (MR) di Kepri, dapat didukung semua pihak.

Tayang:
Penulis: Dewi Haryati | Editor: Sihat Manalu
TRIBUNBATAM/THOM LIMAHEKIN
Konfrensi Pers terkait soialisasi vaksin imunisasi yang disampaikan Dinkes Kepri dan MUI, Selasa (27/8/2018) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana berharap pelaksanaan imunisasi Measle-Rubella (MR) di Kepri, dapat didukung semua pihak.

Mengingat saat ini realisasi pelaksanaan imunisasi itu, baru 44 persen di Kepri dari target 95 persen yang dicanangkan secara nasional.

Sasarannya anak usia 9 bulan hingga 15 tahun. Mayoritas anak di usia itu ada di sekolah.Ia memahami, adanya penolakan dari masyarakat terkait pemberian vaksin tersebut.

Namun dalam hal ini, Tjetjep lebih menitikberatkan pada akibat yang ditimbulkan dari penyebaran virus tersebut.

Terutama jika tertular bagi ibu hamil. Akan berakibat fatal bagi kandungannya."Luar biasa akibatnya. Ini menimbulkan kecacatan bagi anak yang terlahir dengan terserang virus Rubella.

Ada yang buta mata, tak bisa mendengar, jantung bocor, dan lainnya," kata Tjetjep saat kegiatan advokasi dan re-sosialisasi pelaksanaan imunisasi MR di Biz Hotel Batam, Kamis (27/9/2018).

Baca: Kepala Dinkes Kepri: Target Vaksinasi Campak dan Rubella 95 Persen, Namun di Kepri Baru 50 persen

Baca: Vaksin MR Banyak Ditolak, Menkes: Masyarakat Jangan Egois, Pikirkan orang di Sekitar Kita

Baca: Ratusan Kasus Campak dan Rubella Terjadi di Kepri, Dinkes Beri Waktu Vaksin hingga 30 September

Kegiatan itu melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepri, MUI Kota Batam, dokter spesialis anak, Dinas Kesehatan Kota Batam, pihak sekolah dan puskesmas yang ada di Kota Batam.

Selain itu juga menghadirkan pasien penderita Rubella.Tjetjep melanjutkan, dengan dampak yang luar biasa itu juga berpengaruh pada biaya pengobatannya. Butuh biaya yang tak sedikit. Untuk satu kasus saja, bisa merogoh biaya Rp 300 juta sampai Rp 400 juta.

Tjetjep memberi penekanan bagi orangtua yang memiliki ekonomi menengah ke bawah.Hal serupa disampaikan konsultan UNICEF untuk wilayah Riau-Kepri, Yufrizal Putra Candra.

Ia mengatakan, harapan anak yang sudah terkena virus ini, bisa dibilang tidak ada."Jangan berharap anak sembuh kalau sudah kena virus ini. Dampaknya pada anak ada yang katarak, tuli, jantung bocor, pengapuran di otak. Ada juga yang lumpuh. Bagi ibu hamil, keguguran," kata Yufrizal.

Inipula diakuinya menjadi pertanyaan sulit ketika ia melakukan sosialisasi pelaksanaan imunisasi MR. Yufrizal pernah ditanya orangtua yang anaknya terkena virus tersebut.

"Pertanyaannya, kalau kami meninggal ada tak yang mau merawat anak kami. Karena kalau sudah kena, tak mungkin sembuh seperti sedia kala. Biaya pengobatannya mahal," ujarnya.

Karena itu, ia menilai kegiatan advokasi dan re-sosialisasi pelaksanaan imunisasi MR yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi Kepri dan Kota Batam ini, penting.

Tujuannya untuk menyamakan persepsi antar pihak-pihak terkait."Terutama berkaitan dengan kedaruratannya. Mau tak masyarakat merawat anak yang harapan sembuhnya, tak ada," ujarnya.

Saat kegiatan sosialisasi pelaksanaan imunisasi MR di Tanjungpinang beberapa waktu lalu, pihaknya juga melibatkan orangtua yang anaknya terkena virus ini.

Dari enam orang yang mereka temui, hanya empat di antaranya yang bersedia memberikan testimoni, dampak penyebaran virus Rubella."Dari empat orang itu, dua orang dengan anak yang terkena virus ini, dua lagi yang hamil, tapi keguguran.

Dari enam kali hamil, hanya dua anaknya yang jadi. Karena ibunya kena Rubella. Ini jadi tantangan bagi kami," kata Yufrizal.Perlu SosialisasiTerkait pemberian imunisasi MR,

Sektretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepri, Edi Safrani mengatakan, berdasarkan fatwa MUI Pusat pihaknya sudah meneruskan informasi ke MUI di kabupaten/ kota di Kepri. Kalau di Kepri, pemberian vaksin Rubella tetap lanjut.

"Dasarnya karena darurat kesehatan. Campak dan Rubella ini memang bukan sesuatu yang gawat sampai mematikan. Tapi virusnya membahayakan, bisa mewabah. Karena penularannya lewat udara. Bagaimana generasi berikutnya kalau sudah terkena virus. Ini yang dikhawatirkan," kata Edi kepada wartawan, Kamis (27/9/2018).

Data penyebaran virus ini di Kepripun, diakuinya sudah ada. Meski tak menyebut angka, Edi mengatakannya, sudah banyak yang terkena virus Rubella.

"Dari kami di MUI, juga menyampaikan informasi soal ini ke media, lanjutkan imunisasi. Walaupun masih banyak yang meragukan, tapi masih ada celah daruratnya dari sisi kesehatan. Mungkin ini yang kurang tersosialisasikan dengan masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, dari komisi fatwa MUI Batam, Lukman Rivai mengatakan, pihaknya tetap pada keputusan MUI pusat.

Diakuinya memang perlu ada pertemuan lagi dengan pihak-pihak terkait, seperti MUI, dari perwakilan Kementerian Kesehatan dan tokoh-tokoh masyarakat membahas soal imunisasi MR.

"Terutama soal apa ukuran darurat itu. Masih ada yang mempertanyakan ukuran darurat. Untuk meyakinkan, data-data yang ada bisa jadi pertimbangan," kata Lukman.

Lepas dari itu, terkait keputusan boleh atau tidaknya imunisasi MR ini, Lukman mengembalikannya kepada individu masing-masing.Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Batam, Pebrialin mengatakan, digelarnya kegiatan advokasi dan re-sosialisasi pelaksanaan imunisasi MR ini, sebagai upaya pencegahan penularan virus kepada masyarakat.

"Dari data dinkes, capaian kita masih di bawah target secara nasional. Kegiatan seperti ini memang perlu disosialisasikan. Sifatnya mencegah karena pengobatannya mahal," kata Pebrialin. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved