Breaking News:

Jelang Sidang MK, Ketua KPU Arief Budiman Angkat Bicara, Terima SMS Caci Maki hingga soal Pengamanan

Jelang sidang MK, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman angkat bicara.

Tribunnews.com/ Vincentius Jyestha
Ketua KPU Arief Budiman 

Menurutnya, semua pihak yang terkait dalam Pemilu 2019 ini adalah saudara.

"Bagi saya, semua kawan. Baik itu penyelenggara Pemilu, peserta Pemilu, mau Pemilih, atau siapapun teman-teman media saya merasa tidak ada musuh. Karena semua sahabat saya, kawan saya, jadi saya santai saja. Mau pergi kemana-mana sendiri juga tidak apa-apa. Mau ke mana-mana pergi pakai motor juga biasa saja," kata Arief Budiman.

Soal keluarganya Arief Budiman mengaku, sudah terbiasa menghadapai pelbagai lontaran kalimat marah dan kecewa dari mana saja. Khususnya media sosial.

"Keluarga saya sudah terbiasa. Jadi, kadang mereka ikut merespon, kadang mereka diam saja. Sejauh ini ya aman-aman saja. Semua saling menghargai, saling menghormati, tidak mengganggu selama mereka tidak menganggu kita. Kalau komentar pendapat di media sosial itu ya biasa saja, semua orang harus bisa menerima itu," jelasnya.

Perihal komparasi tingkat ancaman pada 2014 silam dengan tahun 2019, lanjutnya, lebih masif di media sosial.

"Menurut saya sama, kualitas dan tekanannya sama. Cuma lebih masif di media sosial. Mungkin ribuan ada yang keberatan, mencaci maki, dan mengolok-olok. Walaupun ada juga yang memback up, menyanjung, dan berterima kasih. Tapi buat saya, semua itu saya perlakukan sama saja," kata Arief Budiman.

Justru, kata Arief Budiman, olok-olok dan caci dari masyarakat dipandang sebagai refleksi untuk memperbaiki diri.

"Terhadap olok-olok, caci maki, saya menjadikan hal itu sebagai koreksi diri. Jangan-jangan ada yang salah. Tetapi untuk yang menyanjung, biasa saja, itu justru membuat saya harus lebih waspada. Tidak terbuai dengan sanjungan, ucapan selamat, dukungan, biasa saja. Saya tidak menyikapi dua sisi itu secara berlebihan," ucapnya.

Jangan Lagi Menyelesaikan Persoalan di Jalanan

Menurut Arief Budiman, semua ruang amarah dan kekecewaan terhadap sesuatu sudah ada wadahnya. Yakni diutarakan melalui sosial media.

"Saya selalu mengatakan begini kepada semua pihak, pemilu kita baik tahap pelaksanaannya maupun regulasinya, sebetulnya sudah semakin baik. Semua hal yang memungkinkan orang kecewa, marah, kemudian mengajukan sengketa, itu kan ruangnya sudah disediakan," tuturnya.

"Jadi, karena ruangnya sudah disediakan oleh undang-undang, maka saya ingin mengingatkan, jangan lagi menyelesaikan persoalan di Jalanan. Karena ruang untuk menyelesaikan persoalan, sudah disediakan oleh undang-undang. Jadi menyelesaikan persoalan di jalanan, menurut saya tidak menyelesaikan persoalan," sambungnya.

Halaman
123
Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved