KILAS SEJARAH

Detik-detik Menegangkan Saat Mahasiswa Datangi Rumah Soeharto Setelah Lengser

sekelompok mahasiswa mengalami momen menegangkan saat berkunjung ke rumah Soeharto setelah setahun presiden ke-2 RI itu lengser

Kolase KOMPAS/EDDY HASBY dan Tribunnews
Momen Menegangkan Mahasiswa Datangi Rumah Soeharto Setelah Lengser 
 
TRIBUNBATAM.id - Lengesernya Soeharto dari tampuk kekuasaannya merupakan momentum sejarah yang cukup penting.

Pasalnya, pasca itu, dinamikan kehidupan politik pun berubah.

Pasca lengser, sekelompok mahasiswa mengalami momen menegangkan saat berkunjung ke rumah Soeharto setelah setahun presiden ke-2 RI itu lengser.

Dilansir dari Tribun Jatim dalam artikel 'Momen Mahasiswa yang Lengserkan Soeharto Bertamu Pasca Tragedi, Ekspresi Berubah saat Pintu Ditutup', kunjungan sekelompok mahasiswa itu terjadi saat hujatan dan demo terkait Soeharto masih sangat gencar bersamaan dengan kampanye Pemilu Multipartai 1999.

Kunjungan ini berawal saat Soeharto membalas surat surat permohonan seorang mahasiswa jurusan jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politk (IISIP) Jakarta bernama Hendrikusumo Dimas Febiyanto.
 

Cuaca Bersahabat, Jadwal Pemadaman Listrik di Batam Hari Ini, Senin (15/7) Batal

Fakta-Fakta Viral Pria Palopo Video Call WA Mesum yang Ternyata Waria dan Berujung Pemerasan

Persib vs Kalteng Putra, Robert Rene Albert Yakin Periode Sulit Persib Berakhir di Laga Ini

Prabowo-Jokowi Telah Bertemu, Rocky Gerung Singgung Kolam: Yang di Kolam Ditinggal Bengong

Sekretaris Pribadi Soeharto, Letkol (Pol.) Anton Tabah, memberitahukan bahwa pukul 09.00 WIB esok harinya, 11 Mei 1999, Soeharto bersedia menerima kunjungan si mahasiswa.

Dimas juga mengajak beberapa mahasiswa lain yakni Subhan Lubis (juga mahasiswa IISIP Jakarta) dan Harry Sutiyoso, S.E. (bekas mahasiswa yang telah jadi karyawan swasta), dan FX Dimas Adityo (mahasiswa Fakultas Sastra jurusan Arkeologi UI)

Perjalanan rombongan mahasiswa tersebut menuju kediaman Soeharto di Jalan Cendana tidaklah mudah.

Setelah meliuk-liuk menerobos kemacetan, mobil pun sampai di kawasan Menteng.

Ketegangan belum reda ketika mereka dapati banyak jalan yang ditutup, dipersempit dengan pagar kawat berduri, atau dijaga aparat keamanan berseragam dan bersenjata lengkap.

Di setiap sudut jalan terdapat petugas keamanan yang rasanya selalu mengamati.

Presiden Soeharto
Presiden Soeharto (Net)

Setelah melewati berbagai rintangan dan halangan, akhirnya rombongan tiba juga di kawasan rumah Soeharto dan keluarga.

Kemudian mereka diantar masuk ke halaman rumah Soeharto melalui pintu yang dilengkapi alat deteksi logam seperti di bandara.

Sejenak Anton Tabah mengajak mereka berbincang, diselingi suguhan minuman teh.

la bilang, sejak ditugaskan sebagai sekretaris pribadi, ia baru tahu ternyata Soeharto tidaklah seperti dilukiskan dan diduga banyak orang.

Anton juga menambahkan, rombongan para mahasiswa ini termasuk beruntung karena menjadi salah satu yang terpilih di antara ribuan permohonan untuk bertemu setelah Soeharto lengser.

Waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika seorang ajudan masuk dan mempersilakan mereka menuju ruang tamu.

Mereka diantar menuju ruang tamu khusus yang letaknya di depan ruang tamu utama.

Bagian rumah itu sering tampak di televisi ketika dulu Soeharto (juga almarhumah Ibu Tien) sedang dalam acara keluarga atau menerima tamu negara.

Ciri khasnya masih ada, yakni hiasan gading gajah berukir ukuran besar.

Di ruang tamu khusus, Soeharto sudah berdiri menunggu dengan memakai pakaian batik berwarna biru dan celana biru.

Sebelum pintu ditutup, mimik wajah Presiden kedua Republik Indonesia itu berubah.

Perubahan mimik wajah Soeharto membuat para mahasiswa itu tertegun, ia berbicara sambil tersenyum.

Ia sangat tenang, dan penuh nasihat, sungguh tidak mencerminkan Soeharto sebagai bekas orang kuat yang memerintah dengan gaya "diktator" selama 32 tahun.

Soeharto mengawali perbincangan dengan tekad mandeg pandhito setelah lengser keprabon.

Banyak berpuasa, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, dan menghabiskan hari tua bersama putra-putri, cucu, serta cicitnya.

"Meskipun hampir setiap hari didatangi tamu, bukan berarti saya menyusun kekuatan untuk comeback, kembali berkuasa, seperti dituduhkan orang," kata Soeharto.

Mereka yang datang dari aneka macam kalangan kebanyakan hanya bertukar pikiran, bersilaturahmi, atau menyatakan simpati.

Pembicaraan berlanjut ke banyak hal. Baik mengenai keberhasilan pembangunan maupun kegagalan, karena orang-orang yang tak bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.

Ada jawaban yang diberikan setelah ditanya, tak sedikit pula yang langsung dijelaskannya tanpa ditanya.

Mengenai uang simpanan, mengenai yayasan, mengenai KKN, juga mengenai sikap diamnya di antara hujatan bertubi-tubi.

"Saya diam agar tidak menambah keruh daripada suasana. Saya kuwatir, apabila saya berbicara atau berbuat sesuatu malah akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan," tambah Soeharto seraya tersenyum.

Sempat ada nada kekecewaan saat Soeharto menjawab pertanyaan mengenai KKN.

"Berbagai kebijakan yang saya keluarkan pada saat menjabat, selalu saya utamakan untuk kepentingan daripada masyarakat banyak. Apabila kemudian lantas ada pelanggaran atau penyelewengan, itu terjadi dalam pelaksanaannya, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab." kata Soeharto

Mantan penguasa Orde Baru itu mengaku amat kecewa, karena segala masalah KKN selalu dirinya yang dituding.

soeharto
soeharto (Kolase Tribun Bogor)

Tidak terasa, percakapan telah berjalan hampir dua jam.

Cerita mengenai banyak hal yang pernah dilansir media massa maupun belum, mereka dapatkan pagi itu.

Perbincangan itu mereka rasakan sama halnya seorang bapak yang berbicara di depan anak-anaknya, yang tentunya juga diselingi nasihat-nasihat.

Pukul sebelas lewat mereka pun mohon diri, pulang membawa pengalaman yang tak terlupakan.

Terlepas dari kesalahan dan kekeliruannya sebagai manusia biasa, nama Soeharto pernah tercatat dalam sejarah sebagai Bapak Bangsa.

Penjagaan yang super ketat di rumah keluarga cendana memang sudah dilakukan semenjak Soeharto lengser

Setelah Soeharto lengser, suasana mencekam sempat menyelimuti rumahnya sehingga penjagaan di sekitar Jalan Cendana, Jakarta Pusat, sangat ketat.

Dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Kisah Wiranto Cegah "Pengadilan Rakyat" terhadap Soeharto dan Keluarga', tidak ada satu elemen mahasiswa atau massa pun yang bisa menembus barikade aparat keamanan.

Ketika itu, hampir setiap hari ada aksi unjuk rasa yang menuntut Soeharto diadili. Mereka berkumpul di sekitar Taman Surapati dan Tugu Tani.

"Bahkan, tidak jarang saya mendengar ada di antaranya yang menuntut dilakukannya 'pengadilan rakyat' atas mantan Presiden RI, Soeharto," kata Wiranto.

Wiranto mengatakan, hak setiap orang untuk berdemonstrasi. Namun, Wiranto meminta aksi itu dilakukan dengan damai.

Wiranto khawatir gerakan demo dapat mengarah kepada tindakan anarkisme dan brutalisme, yang dianggapnya akan menodai reformasi.

Ia merasa langkah pengamanan ketat tersebut untuk menyelamatkan Indonesia dari sebutan "bangsa barbar".

"Coba bayangkan, pada waktu itu ribuan massa bergerak ke Cendana untuk melakukan apa yang disebut 'pengadilan rakyat', yakni menghabisi mantan presiden dan keluarganya dengan cara mereka, pasti akan sangat keji dan brutal," kata Wiranto.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto (KOMPAS.com/Kristian Erdianto)

Di tengah situasi itu, Wiranto mendapat informasi dari wartawan asing bahwa akan timbul lagi korban tewas pada saat bentrok dengan aparat di sekitar Cendana. Hal itu untuk membangkitkan amarah massa.

Karena itu, Wiranto meminta Kapolda menggelar barikade kawat berduri untuk mencegah bentrokan langsung.

Berdasarkan pemberitaan Kompas, Jalan Cendana masih tertutup untuk umum, dan penjagaan masih sangat ketat sampai November 1998.

Para petugas keamanan itu berjaga-jaga di lima titik ujung (persimpangan) jalan yang langsung mengarah ke Jalan Cendana.

Kelima titik itu adalah Jalan Tanjung, Jalan Yusuf Adiwinata, Jalan Kamboja, Jalan Rasamala, dan Jalan Suwiryo.

Para petugas yang berjaga-jaga berasal dari Brigade Infanteri 1 Pengamanan Ibu Kota/Jaya Sakti (Brigif-1 PIK/JS) Kodam Jaya dan satuan perintis Polda Metro Jaya.

Pada Kamis, 19 November 1998, sekitar 8.000 mahasiswa sempat bergerak menuju kediaman Soeharto.

Namun, mereka gagal mencapai Jalan Cendana karena ketatnya blokade.

Dalam bukunya yang berjudul Bersaksi di Tengah Badai, Wiranto membantah bahwa penjagaan tersebut dilakukan atas instruksi dari Cendana kepada ABRI. (***)

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Momen Menegangkan Mahasiswa Datangi Rumah Soeharto Setelah Lengser, Mimik Wajah Pak Harto Berubah

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved