DKPP Bintan Pastikan Hewan Kurban yang Dipotong Saat Idul Adha 1440 Hijriah Bebas Penyakit

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bintan pastikan semua hewan kurban yang dipotong bebas dari penyakit.

DKPP Bintan Pastikan Hewan Kurban yang Dipotong Saat Idul Adha 1440 Hijriah Bebas Penyakit
TRIBUNBATAM.id/Endra Kapura
Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Kepulauan Riau Hj. Rosmeri Isdianto didampingi sejumlah pengurus BKOW lainnya dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Misni, berkeliling dari masjid ke masjid yang ada di Tanjungpinang dan Bintan. 
TRIBUNBATAM.id, BINTAN - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bintan, bersama PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) Cabang Kepulauan Riau (Kepri) memastikan hewan kurban di Bintan tidak ditemukan penyakit.
 
Hal tersebut diutarakan Kepala Seksi Kesehatan Hewan DKPP Bintan yang juga sebagai Sekretaris umum PDHI Kepri, Iwan Berri Prima kepada TRIBUNBATAM.id, Senin (12/8/2019).
 
"Selama DKPP Bintan melakukan pengawasan kesehatan hewan dan daging kurban di Bintan tidak ditemukan penyakit," ucap Iwan.
 
Iwan menyebutkan, DKPP Bintan memang turut serta membantu dalam pengawasan kesehatan hewan dan daging kurban jelang dan sampai Hari raya Idul Adha 1440 Hijriah.
 
"Tujuannya pengawasan ini untuk pemeriksaan antemortem dan postmortem," tutur Iwan.
 
Iwan melanjutkan, pemeriksaan antemortem adalah pemeriksaan sebelum hewan dipotong.
 
Tujuannya adalah untuk memastikan kembali bahwa hewan sebelum disembelih adalah hewan yang benar-benar sehat dan layak untuk kurban.
 
Sedangkan pemeriksaan postmortem adalah pemeriksaan setelah hewan disembelih.
 
Fokus utama dari pemeriksaan ini adalah memastikan bahwa daging dan organ dalam kondisi sehat dan layak makan atau tidak.
 
"Termasuk mendeteksi ada tidaknya penyakit parasiter (kecacingan) dalam tubuh hewan kurban," ujar Iwan.
 
Adapun petugas kesehatan hewan (Keswan) yang melakukan pengawasan berjumlah 16 orang.
 
Proses penyembelihan hewan kurban di Masjid Nurul Ihsan di belakang pasar ikan Jalan Ahmad Yani Laut, Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri, Minggu (11/8/2019). ?Tribun/Septyan Mulia Rohman.
Proses penyembelihan hewan kurban di Masjid Nurul Ihsan di belakang pasar ikan Jalan Ahmad Yani Laut, Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri, Minggu (11/8/2019). ?Tribun/Septyan Mulia Rohman. (TRIBUNBATAM.id/Septyan Mulia Rohman)
 
Mereka terdiri dari 4 dokter hewan dan 12 paramedis veteriner yang tersebar di 7 kecamatan di Kabupaten Bintan.
 
Tujuh kecamatan tersebut adalah Kecamatan Bintan utara, Seri Kuala Lobam, Teluk Sebong, Teluk Bintan, Gunung Kijang, Bintan Timur dan Toapaya, yang tersebar kurang lebih di 42 titik tempat pemotongan baik di masjid, mushola dan lapangan.
 
Jumlah titik pemantauan ini bisa bertambah mengingat masih ada beberapa laporan yang belum masuk.
 
"Nah hingga saat ini belum ada laporan ditemukan kasus penyakit atau ketidaklayakan daging hewan kurban," tutur Iwan.
 
Namun, di lapangan masih ditemukan masyarakat yang merokok sambil memproses daging. 
 
Padahal sebelumnya telah diingatkan jika merokok sebaiknya dalam kondisi istirahat, tidak sedang memproses daging.
 
Selain itu, banyak masyarakat tidak membuat pembatas khusus atau tirai sehingga banyak anak kecil yang dengan bebas melihat proses penyembelihan hewan kurban.
 
Padahal ini mengandung unsur kekerasan dan ada darah di sana.
 
Kondisi ini menyebabkan massa banyak berkerumun, hewan pun stress.
Usai menunaikan ibadah salat dan beramah tamah dengan masyarakat, Isdianto dan Rosmeri menyerahkan sapi hewan kurban kepada pengurus masjid. Isdianto juga ikut menyerahkan sapi kurban Presiden RI di Masjid Darussalam Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepri, Minggu (11/8/2019).
Usai menunaikan ibadah salat dan beramah tamah dengan masyarakat, Isdianto dan Rosmeri menyerahkan sapi hewan kurban kepada pengurus masjid. Isdianto juga ikut menyerahkan sapi kurban Presiden RI di Masjid Darussalam Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepri, Minggu (11/8/2019). (TRIBUNBATAM.id/Endra Kapura)
 
Bahkan banyak daging terinjak-terinjak. 
 
"Jadi tanpa disadari, dengan tidak adanya tanda larangan, ini berpotensi pencemaran daging dan menghambat kerja," ungkap Iwan. (TRIBUNBATAM.id/Alfandi Simamora)
 
Penulis: Alfandi Simamora
Editor: Thom Limahekin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved