Akibat Kebijakan Kontroversial Donald Trump, Amerika Serikat Menunjukkan Sinyal Resesi
Jargon kampanye Donald Trump yang akan "make America great again" justru menjadi sebaliknya akibat tindakannya sendiri. AS menunjukkan sinyal resesi
TRIBUNBATAM.ID - Jargon kampanye Donald Trump yang akan "make America great again" justru menjadi sebaliknya akibat tindakannya sendiri.
Di tengah kebijakannya untuk melindungi industri Amerika Serikat, ternyata negara adidaya itu terancam resesi.
Tanda-tanda bahwa AS terancam resesi terlihat dari yield obligasi AS tenor tiga bulanan tercatat lebih tinggi dibanding yield sepuluh tahun.
Sementara untuk yield tenor dua tahun terhadap sepuluh tahun belum terjadi perubahan. Begitupun nilai probabilitas resesi hingga satu tahun mendatang yang dikeluarkan The Federal Reserve pun menunjukkan berada di bawah 30%.
• Asus Zenfone 6 Buatan Batam Diekspor ke Eropa, Kapan Dijual di Indonesia?
• Diberi BMW Seharga Rp 2 Miliar Sebagai Hadiah Ulang Tahun, Pria Ini Malah Membuangnya ke Sungai
• Beberapa Kali Digigit Ubur-ubur, Perenang Cilik 9 Tahun Sukses Seberangi Pulau Sejauh 26 Kilometer
Ancaman resesi ekonomi AS meningkat setelah ekonomi Jerman berbalik arah dan melemah pada kuartal kedua tahun ini.
Tambah lagi, pertumbuhan output industri China yang turun ke level terendah lebih dari 17 tahun pada Juli 2019.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menilai pelaku pasar global memandang peluang AS mengalami resesi semakin besar khususnya tercermin dari yield curve US bond yang inverted.
Dia mengaku, persepsi pasar berbeda dengan perkiraan The Fed yang memperkirakan ekonomi AS masih tumbuh cukup baik sebagaimana tercermin dari indikator lainnya, seperti inflasi yang dibilang masih terjaga.
Dody menilai, jika resesi terjadi di AS, hal ini akan berdampak secara global, termasuk Indonesia, karena AS merupakan mesin utama ekonomi dunia selain China.
“Dalam kondisi demikian, negara-negara akan mengandalkan sumber dari domestik untuk menopang pertumbuhan,” kata Doddy kepada Kontan.co.id, Kamis (15/8/2019).
Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menambahkan inverted yield obligasi AS telah memberikan sinyal pada --setidaknya-- 7 kali resesi dalam lima puluh tahun terakhir di AS.
Hal itulah yang kemudian membuat sentimen negatif pasar keuangan global meningkat.
“Hal itulah yang menjalar ke negara emerging market, termasuk Indonesia. Sehingga risiko premium kita meningkat, akibatnya yield kita malah meningkat saat yield US- memiliki tren menurun,” kata Fikri.
Ancaman resesi AS pun tentunya berdampak terhadap stabilitas makro dalam negeri. Misalnya, pergerakan rupiah yang secara umum dipengaruhi dua faktor yaitu faktor fundamental dan faktor sentimen.
Belakangan ini faktor sentimen lebih dominan, yaitu dinamika perang dagang AS-China, dinamika geopolitik seperti di Argentina, serta perkembangan ekonomi AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/wall-street_20170512_112042.jpg)