Akibat Kebijakan Kontroversial Donald Trump, Amerika Serikat Menunjukkan Sinyal Resesi

Jargon kampanye Donald Trump yang akan "make America great again" justru menjadi sebaliknya akibat tindakannya sendiri. AS menunjukkan sinyal resesi

Akibat Kebijakan Kontroversial Donald Trump, Amerika Serikat Menunjukkan Sinyal Resesi
Thinkstockphotos.com
Bursa saham New York atau New York Stock Exchange 

TRIBUNBATAM.ID - Jargon kampanye Donald Trump yang akan "make America great again" justru menjadi sebaliknya akibat tindakannya sendiri.

Di tengah kebijakannya untuk melindungi industri Amerika Serikat, ternyata negara adidaya itu terancam resesi.

Tanda-tanda bahwa AS terancam resesi terlihat dari yield obligasi AS tenor tiga bulanan tercatat lebih tinggi dibanding yield sepuluh tahun.

Sementara untuk yield tenor dua tahun terhadap sepuluh tahun belum terjadi perubahan. Begitupun nilai probabilitas resesi hingga satu tahun mendatang yang dikeluarkan The Federal Reserve pun menunjukkan berada di bawah 30%.

Asus Zenfone 6 Buatan Batam Diekspor ke Eropa, Kapan Dijual di Indonesia?

Diberi BMW Seharga Rp 2 Miliar Sebagai Hadiah Ulang Tahun, Pria Ini Malah Membuangnya ke Sungai

Beberapa Kali Digigit Ubur-ubur, Perenang Cilik 9 Tahun Sukses Seberangi Pulau Sejauh 26 Kilometer

Ancaman resesi ekonomi AS meningkat setelah ekonomi Jerman berbalik arah dan melemah pada kuartal kedua tahun ini.

Tambah lagi, pertumbuhan output industri China yang turun ke level terendah lebih dari 17 tahun pada Juli 2019.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menilai pelaku pasar global memandang peluang AS mengalami resesi semakin besar khususnya tercermin dari yield curve US bond yang inverted.

Dia mengaku, persepsi pasar berbeda dengan perkiraan The Fed yang memperkirakan ekonomi AS masih tumbuh cukup baik sebagaimana tercermin dari indikator lainnya, seperti inflasi yang dibilang masih terjaga.

Dody menilai, jika resesi terjadi di AS, hal ini akan berdampak secara global, termasuk Indonesia, karena AS merupakan mesin utama ekonomi dunia selain China.

“Dalam kondisi demikian, negara-negara akan mengandalkan sumber dari domestik untuk menopang pertumbuhan,” kata Doddy kepada Kontan.co.id, Kamis (15/8/2019).

Halaman
1234
Editor: Alfian Zainal
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved