PHK Melanda Batam, Perusahaan Hengkang, Ini Penyebabnya
Industri manufaktur di Batam meredup, pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda, ini penyebabnya.
"Tahun ke 1-2 mereka akan survey lokasi dan flexibility study. Tahun ke 3 mulai pembangunan gedung produksi, tahun ke 4 melakukan testing and commissioning. Kemudian tahun ke 5 biasanya fully operasi," ujarnya.
Gara-gara upah hingga demo buruh
Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid, menjelaskan ada sejumlah masalah utama perusahaan padat karya seperti Foster dan Unisem.
Pertama, upah minimum yang sudah semakin tidak kompetitif.
Saat ini upah minimum di Batam sudah mencapai US$ 270, jauh lebih tinggi ketimbang negara ASEAN lainnya.
"Makanya Foster memilih merelokasi usaha ke Myanmar," kata Rafki, kemarin.
Kedua, frekuensi demonstrasi di Batam semakin tinggi.
Tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor akan keselamatan asetnya di Batam, bahkan seringkali hal itu mengganggu proses produksi.
Ketiga, masih mahalnya ongkos angkut kontainer dari Batam ke luar negeri.
Aturan masih berbelit
Keempat, masih ada aturan berbelit yang dikeluarkan berbagai lembaga pemerintah pusat yang menyulitkan langkah perusahaan di Batam memasukkan maupun mengeluarkan barang dari Batam ke luar negeri dan ke daerah lain di Indonesia.
"Kami minta pemerintah pusat dan semua pihak terkait menjaga iklim investasi yang baik dan menguntungkan di Batam," kata dia.
Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Dendi Gustinandar, menjelaskan tidak ada analisa secara empiris penyebab perusahaan tutup.
Tapi BP Batam mendapatkan keterangan bahwa mereka telah merugi selama beberapa tahun belakangan.
Menurut Dendi, di Batam memang ada pergesaran industri ke arah yang lebih tinggi teknologinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/image-2019-08-06-at-200239.jpg)