BATAM TERKINI

PT Foster Pindah dari Batam ke Myanmar, 1.166 Karyawan Kena PHK

PT Foster Electronic Indonesia tutup usaha di Batam dan pindah ke Myanmar. Dampaknya, 1.166 karyawan perusahaan yang di Batam sejak 28 tahun lalu.

PT Foster Pindah dari Batam ke Myanmar, 1.166 Karyawan Kena PHK
wahyu indri yatno
phk Karyawan 

Persoalan-persoalan seperti itu belum selesai, kini terbit pula Permendag No. 47 tahun 2019 yang tidak memasukkan pelabuhan Batam sebagai pelabuhan tujuan impor bahan B2.

"Industri mau impor harus melalui salah satu pelabuhan di Dumai, Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak atau Soekarno Hatta. Logika berpikirnya dimana?," kata OK.

Padahal Batam merupakan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

"Bagaimana Batam mau bersaing kalau begini. Saya kira saatnya kita harus bangkit dengan memangkas semua regulasi yang tidak pro investasi," ujarnya. (*/wie)

Upah di Myanmar Lebih Murah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam juga menanggapi perihal tutupnya PT Foster di Batam.

Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid, mengatakan, Apindo sudah sering mengingatkan kepada pihak terkait, terutama para elit serikat pekerja/buruh, aksi demonstrasi yang terlalu sering dilakukan di Batam, bisa membuat investor menjadi tidak nyaman.

"Ada kekhawatiran proses produksi akan terganggu dan adanya kekhawatiran terhadap keamanan aset aset yang mereka miliki di Batam," kata Rafki.

Akibatnya, mereka mencari tempat lain sebagai alternatif investasinya. Salah satunya PT Foster. Pihak perusahaan memilih Myanmar sebagai negara tempat merelokasi investasinya.

"Ketika kita bandingkan antara Myanmar dengan Batam, maka Batam kalah jauh dari sisi daya saingnya," ujarnya.

Terutama di bidang ketenagakerjaan. Upah minimum di Myanmar hanya 100 dolar Amerika. Sementara upah minimum di Batam sudah mencapai 270 dolar Amerika.

"Parahnya upah minimum di Batam, naik rata-rata 8 persen setiap tahunnya. Kenaikan ini tidak sebanding dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja mikro setiap tahunnya," kata Rafki.

Ia menyebut, produtivitas tenaga kerja mikro naik rata-rata hanya 1 persen setiap tahunnya. Bahkan kadang-kadang stagnan.

Akibatnya, ini menjadi beban yang semakin berat. Terutama untuk perusahaan-perusahaan padat karya, seperti PT Foster dan PT Unisem.

"Anehnya walaupun upah di Batam sudah sangat tinggi, frekuensi demonstrasi juga semakin tinggi. Ada saja hal yang dituntut serikat pekerja/buruh untuk bisa turun ke jalan," ujarnya.

Mestinya untuk daerah investasi seperti Batam, demonstransi jangan sampai terjadi. Persoalan hubungan industrial bisa diselesaikan lewat meja perundingan atau pengadilan.

"Namun anehnya di Batam, pengadilan pun didemo serikat pekerja/buruh. Ini tentunya memberikan citra negatif di mata investor," kata Rafki.

Apindo berharap semua pihak mendukung iklim investasi di Batam. Tidak hanya memikirkan kepentingan kelompok masing-masing, tetapi juga memikirkan kepentingan bersama.

"Bagaimana memupuk Batam sebagai daerah tujuan investasi yang dipandang nyaman, aman dan menguntungkan oleh investor untuk menanamkan modalnya," ujarnya. (*/tribunbatam.id/dewi haryati)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved