VIRAL SOSOK Dokter Berhati Malaikat, Rela Dibayar Rp 10 Ribu, Pulang Pergi Naik Angkot
Tanpa pamrih, ia menyembuhkan banyak penyakit yang diderita pasien. Kisah Kisah Mangku Sitepoe
Tahun 1995, mereka membangun poli klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Cabang St Tarsisius di bilangan Barito, Jakarta Selatan.
Tujuannya, agar masyarakat benar-benar mendapatkan manfaatnya ketimbang hanya sekali berobat saat ada acara tertentu.
Kemudian di tahun 2003, Cabang poli klinik berbiaya sukarela ini dibangun lagi di Kebayoran Lama.
Dibayar Rp 10 Ribu per Pasien
Dari tahun 1992 hingga sekarang, Mangku mengaku hanya dibayar sukarela oleh pasien.
Bahkan, tak sedikit yang tak bayar.
Namun, ia tak membeda-bedakan para pasien itu.
"Saya tidak beda-bedain pasien. Semua sama. Saya tangani semua dengan benar-benar. Satu orang bahkan bisa 15 menit," terangnya.
Mangku pun dibayar Rp 10 ribu per pasien yang datang kepadanya.
"Per pasien hanya bayar Rp 10 ribu saja. Sudah termasuk obat-obatannya ya," katanya.
Setiap menuju poli klinik itu, Mangku pergi pulang menggunakan mikrolet.
"Saya berangkat naik mikrolet pulang juga sama. Sekarang sudah enggak bisa nyetir mobil sendiri lagi," ujarnya.
Pria dengan tiga orang anak ini mendapatkan penghasilan utamanya dari uang pensiunan sewaktu di Departemen Pertanian dulu.
"Saya hidup dengan uang pensiunan saya bukan dari klinik ini. Semasih saya hidup saya akan terus berusaha menyembuhkan orang,"
"Kalau mereka sembuh saya senang. Saya bangga sekali, ada kepuasan batin. Di situlah letak kebahagiaan saya," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kisah Mangku Sitepoe Dokter yang Rela Dibayar Rp 10 Ribu, Pulang Pergi ke Poliklinik Naik Mikrolet
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/dokter-mangku-sitepoe.jpg)