VIRAL SOSOK Dokter Berhati Malaikat, Rela Dibayar Rp 10 Ribu, Pulang Pergi Naik Angkot
Tanpa pamrih, ia menyembuhkan banyak penyakit yang diderita pasien. Kisah Kisah Mangku Sitepoe
Sebagai imbalan, tak jarang warga membalas budi Mangku dengan buah musiman seperti durian, kelapa, maupun beras.
Dari sana, Mangku bekerja tak hanya sebagai Dokter hewan namun juga melayani masyarakat yang minta bantuan.
Mangku juga pernah menjadi dokter hewan di Filipina maupun Denmark.
Pada tahun 1967, Mangku memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Sumatera Utara agar bisa meraih gelar Dokter umum.
"Salah satu faktornya saya ingin jadi dokter umum karena cerita di Langkat itu. Setelah menjalani pendidikan, tahun 1978 saya disumpah sebagai Dokter," kenangnya.
Namun, ia masih bekerja di departemen pertanian hingga pensiun di tahun 1992.
Pensiun Jadi Dokter Umum
Meski sudah pensiun, ia menolak untuk menghabiskan masa tuanya dengan hidup tenang.
Perjalanan hidup baru Mangku pun kembali dimulai.
Bersama dengan ketiga temannya, salah satunya Farmakolog Idealis Prof Iwan Darmansjah, Mangku mulai bergerak untuk mengobati warga miskin.
Kala itu, ia bersama ketiga temannya menyelenggarakan pengobatan gratis dalam rangka HUT RI ke-50 di sebuah gereja.
Antusias masyarakat pun tinggi, sebab pada tahun 1992, belum ada BPJS maupun asuransi kesehatan yang menanggung biaya warga miskin.
"Tampaknya, orang tertarik sekali dengan pengobatan gratis," katanya.
Mengutip perkataan Prof Iwan Darmansjah, lanjut Mangku, setiap orang yang memiliki akal sehat memiliki Altruisme.
Altruisme itu merupakan perhatian kepada kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/dokter-mangku-sitepoe.jpg)