Rabu, 27 Mei 2026

Alasan Pesawat Hindari Terbang di Atas Samudra Pasifik, Ancam Keselamatan?

Kebanyak pesawat hindari Samudra Pasifik saat melakukan penerbangan dari Amerika Serikat ke Asia. Ini alasan mengapa pesawat hindari Samudra Pasifik.

Tayang:
MiniTime
Ilustrasi Pesawat Melewati Samudra Pasifik. 

TRIBUNBATAM.id - Tak banyak pesawat terbang bisa melewati Samudra Pasifik.

Biasanya, penerbangan dari Amerika Serikat ke Asia lebih memilih lewat Alaska atau Siberia dibanding  Samudra Pasifik.

Lantas apakah yang menyebabkan hal ini?

Mengapa Tak Ada Pesawat Berani Lintasi Pegunungan Himalaya?

Bukankah itu justru membuat perjalanan jadi lebih jauh karena pesawat harus melewati rute memutar?

Sebagian orang menduga, pesawat menghindari Samudra Pasifik karena alasan keselamatan.

Seperti yang kita tahu, Samudra Pasifik adalah samudra terbesar dan terdalam di dunia.

Bayangkan jika terjadi masalah dengan pesawat dan harus mendarat darurat di Samudra Pasifik.

Pilot pasti akan kesulitan menemukan tempat yang aman untuk mendaratkan pesawatnya.

Pencarian dan evakuasi di Samudra Pasifik pun lebih sulit dilakukan daripada mendarat darurat di Alaska.

Dugaan pesawat menghindari Samudra Pasifik dengan alasan keamanan tidak salah.

Keadaan darurat di pesawat sangat jarang terjadi.

Jadi, ada alasan lain mengapa pesawat tidak melewati Samudra Pasifik.

Saat merencanakan rute, banyak pilot memilih untuk memaksimalkan sejumlah bandara dalam perjalanannya.

Alasan sebenarnya pesawat tidak melewati Samudra Pasifik adalah untuk menghemat bahan bakar dan waktu.

Dikutip TribunTravel dari laman USA Today, pertanyaan mengapa pesawat tidak melewati Samudra Pasifik telah dijawab oleh pilot Ralph dari Jerman.

Menurutnya, penerbangan dari Amerika ke Asia menghindari Samudera Pasifik karena beberapa alasan.

(gstatic.com)

Satu di antaranya karena penerbangan dari AS ke Asia melewati Alaska lebih dekat dan cepat daripada Samudra Pasifik.

Ya, kita mungkin tidak menyadari jika rute yang kita anggap lebih jauh itu sebenarnya adalah rute tercepat dan terdekat.

Saat merencanakan perjalanan dari Amerika ke Asia dan memilih rute penerbangan, kamu mungkin menganggap garis lurus melintasi Samudra Pasifik adalah rute tercepat.

Lagi pula, jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus, bukan?

Selama ini orang melihat peta datar (peta dua dimensi), sehingga mereka menganggap terbang dari AS ke Asia lebih dekat jika melintasi Samudra Pasifik karena satu garis lurus.

(gstatic.com)

Padahal, bentuk Bumi kita tidak datar.

Jika kita melihat peta pada globe, garis lurus akan terlihat berbeda dan justru lebih jauh.

"Menerbangkan rute melingkar lebih dekat daripada garis lurus karena keliling Bumi lebih besar di Khatulistiwa daripada di dekat Kutub," jawab Ralph di situs tanya jawab pilot USA Today.

Tanpa kita sadari, jalur penerbangan pesawat sebenarnya tampak aneh jika kita melihatnya di peta datar.

Bagaimanapun, maskapai penerbangan adalah bisnis.

Maskapai tentunya ingin membawa penumpang lebih cepat sampai ke tujuan dengan biaya operasional yang murah.

Tapi, bukan berarti pesawat tidak pernah menyebrangi Samudra Pasifik.

Orang-orang dari Amerika yang akan pergi ke Australia misalnya, mereka tetap akan terbang melintasi Pasifik.

Pesawat tetap akan menjelajah laut terbuka untuk menghindari badai dan tetap terbang melewati cuaca ekstrem.

Alasan lain pesawat tetap melakukan perjalanan di atas samudra karena perjalanan di laut cenderung lebih 'mulus'.

Ketika cuaca cerah, turbulensi di atas air lebih sedikit daripada di atas daratan.

Hal ini dikarenakan sumber utama penyebab turbulensi adalah udara panas yang naik dari daratan.

Masih Jadi Misteri, Ini 5 Kasus Hilangnya Pesawat dan Kapal di Segitiga Bermuda

Pesawat Komersil Sudah Bisa Parkir Di Apron Bandara Matak

Cegah Nyeri Punggung, Ini 6 Tips Tetap Nyaman di Kursi Pesawat Saat Penerbangan Jarak Jauh

Artikel ini telah tayang di Tribuntravel.com dengan judul Kenapa Pesawat Menghindari Terbang di Atas Samudra Pasifik?.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved