Breaking News:

TIMNAS INDONESIA

Fakhri Husaini Beberkan Alasan Tolak Tawaran PSSI jadi Asisten Shin Tae-yong: Mereka Meremehkan

Fakhri Husaini Beberkan Alasan Tolak Tawaran PSSI jadi Asisten Shin Tae-yong, Simak Wawancara Eksklusif Disini!

ADAM AIDIL/AFC
Pelatih Fakhri Husaini, staf pelatih Timnas U-16 Indonesia, dan para pemain cadangan menyanyikan lagu Indonesia Raya jelang laga versus Vietnam di Stadion Bukit Jalil, 24 September 2018. 

Tapi kalau yang dipilih PSSI Shin Tae-yong, kata Danur, dia akan jadi pelatih 3 tim; Timnas senior, Timnas U-23 dan Timnas U-19. Kecuali Timnas U-16 dia gak ikut campur.

Terus Danur ngomong ---- Coach Fachri tetap masuk. PSSI tetap menginginkan Coach Fakhri menjadi bagian Timnas U-19. Saya tanya apa maksudnya? Asisten pelatih atau tetap jadi pelatih? Tapi dari saya mendengar dari pembicaraan sebelumnya, bahwa Shin Tae-yong bakal menangani 3 tim, berarti saya bukan pelatih kepala lagi, kan?

Kalau bukan pelatih kepala, saya tak punya otoritas apapun di Timnas U-19. Menentukan materi latihan, memilih dan memasang pemain, saya sudah gak punya lagi. Dasarnya apa menempatkan saya sebagai asisten pelatih? Itu mereka tak bisa jawab.

Apa yang ada di pikiran Coach Fakhri saat tidak mendapat jawaban dari PSSI?

Saya yakin mereka menempatkan saya sebagai asisten pelatih karena mereka tak percaya dengan pelatih lokal. Saya sebagai pelatih lokal langsung berpikir ke situ.

Berarti Kalian tak percaya sama saya sebagai pelatih lokal, saya ngomong begitu. Berarti kalian meremehkan saya.

Saya kalian anggap hanya 1/3 Shin Tae-yong, kan? Kalau dia 1 kalian berikan tiga tugas, berarti pelatih lokal disamakan dengan 1/3-nya dari Shin Tae-yong. Itu sangat menghina kami.

Baik, itu alasan pertama. Ada alasan lain hingga anda menolak tawaran PSSI jadi asisten pelatih Shin Tae-yong?

Kalau saya terima jabatan itu. Berpikir diri pribadi. Sebenarnya enak sekali jabatan itu.

Dia (asisten) tak diberikan beban dan tanggungjawab. Tim hancur ada di tangan pelatih kepala.

Asisten pelatih bisa sembunyi di balik ketiak Shin Tae-yong.

Kalau berpikir untuk diri sendiri saja dan kenikmatan semata. Pasti saya terima.

Lantas mengapa tak diambil saja tawaran itu?

Kalau saya jadi asisten, asisten saya di U-19 kemana? Tim dan staf saya kemana? Kami berjuang setengah mati, mulai seleksi pemain, sampai latihan, sampai tim ini lolos kualifikasi. Kemana mereka? Kalau saya jadi asisten pelatih. Mereka (PSSI) tak bisa jawab juga.

Jadi 2 hal itu yang membuat saya menolak menjadi asisten pelatih tim nasional.

Menurut Coach Fakhri, dimana letak kegagalan anda membesut Timnas U-19 kemarin, hingga akhirnya PSSI malah memberikan tawaran sebagai asisten pelatih?

Sudah saya sampaikan ke Danur, kemarin. Kalau mereka niat mengevaluasi kami. Gampang saja.

Berikan saja kami kesempatan ikut ke Piala Asia. Beri target tinggi.

Misalnya, Tim Fakhri Cs U-19 ini harus juara Piala Asia. Kalau tak juara, kamu geser.

Cuma yang saya takut, kalau Alloh sayang sama kami, nanti kami juara di sana. Malah bingung mereka.

Begini, mereka itu sebenarnya ingin menggeser saya sudah lama. Cuma celahnya gak ada.

Dari aspek prestasi. Yang mungkin bisa mereka pakai, harus mampu mengambil pelatih level lebih tinggi.

Ditaruh di sana kemudian membandingkan.

Taruh Shin Tae-yong yang mantan pelatih Korea Selatan, tapi prestasinya yang dibanggakan hanya menang 2-0 dengan Jerman (Piala Dunia 2018). Tapi di penyisihan tak lolos juga.

Dengan prestasi yang diukir sejauh ini, kemudian penolakan tawaran menjadi asisten pelatih, bagaimana kira-kira karir kepelatihan anda di Timnas?

Saya tak pernah gantungkan nasib saya kepada pemilik klub atau pengurus PSSI, saya menyerahkan semuanya kepada Allah.

Saya bersandar hanya ke sana saja.

Bagi sebagian orang, tak semua orang setuju pendapat saya. Termasuk menolak sebagai asisten pelatih timnas.

Ada yang mendukung ada yang tidak. Buat saya biasa saja.

Intinya saya dipuji atau dimaki orang, tak merubah kemulian di mata Allah.

Seluruh indonesia memuji saya, kalau di mata Allah saya tak layak diberi kemuliaan, ya, gak mulia juga saya.

Begitu sebaliknya, dari Papua sampai Aceh memaki saya, tapi Allah katakan bahwa saya layak dimuliakan olehnya, gak akan bisa dihalangi. Apa yang saya takutkan?

Kesimpulan apa yang anda peroleh dari keputusan menolak tawaran PSSI jadi Asisten pelatih?

Kesimpulannya, saya menikmati situasi ini. Saya yakin, tak ada yang terjadi tiba-tiba.

Allah menetukan segalanya. Allah punya rencana lebih baik lagi.

Apakah rencana itu di sepak bola atau di kantor.

Yang pasti dengan penolakan itu, saya fokus dengan pekerjaan sebagai Manager CSR di Pupuk Kaltim

Barangkali ada hikmah yang anda petik usai melakoni situasi rumit di dunia persepakbolaan Indonesia belakangan ini?

Hikmahnya, saya menolak tawaran asisten timnas.

Saya berpikir, ini cara Allah mengingatkan saya, bahwa sebentar lagi pensiun.

Kembali ke Pupuk Kaltim, laksanakan tugasmu sebagai manajer CSR dengan naik dan tuntas.

Saya merasa seandainya saya menerima tawaran asisten pelatih, sudah pasti saya akan meninggalkan pekerjaan ini.

Buat saya gak sebanding jabatan asisten pelatih Timnas dengan tugas berat yang saya lakukan sebagai Manajer Departement CSR Pupuk Kaltim.

Saya sampaikan ke PSSI saya tak akan permah meninggalkan pekerjaan dan keluarga saya di Bontang. Hanya untuk menjadi asisten pelatih.

Maknanya apa? sekarang saya bisa fokus, full time 100 persen melaksnakan tugas sebagai manajer.

Saya syukuri betul berada di perusahaan (BUMN) yang memiliki komitmen kuat untuk kepentingan negara.

Kendati dalam konteks kegiatan olahraga. PKT sangat mendukung saya sepenuhnya ketika menjadi pelatih Timnas.

Menjadi pelatih lho, bukan asisten pelatih. Kalau asisten saya, mah, gak mau. (Tribunkaltim.co/Fachri)

Artikel ini telah tayang di tribunkaltim.co dengan judul Curhat Fakhri Husaini Tantang PSSI soal Timnas Indonesia Tolak Sembunyi di Balik Ketiak ShinTae-yong

Editor: Danang Setiawan
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved