Hari Ini Dalam Sejarah: Tentara PETA Memberontak di Hari Valentine, Supriyadi Lenyap Misterius
Usai memberontak, sosok tentara bernama Supriyadi hilang misterius. Sosoknya menjadi kontroversi
Supriyadi lalu mengadakan pertemuan rahasia yang dihadiri oleh Shodanco Muradi, Budanco Sumanto dan Budanco Halir Mangkudijaya.
Pertemuan itu membahas mengenai persipaan pemberontakan yang akan dilakukan.
Setelah pertemuan tersebut, para pemimpin PETA dan tokoh masyarakat dihubungi untuk dimintai bantuan.
Pertemuan rahasia yang kedua dilakukan pada bulan Juni tahun 1944.
Pada pertemuan itu, Supriyadi mengatakan bahwa pemuda tidak bisa membiarkan Jepang terus menindas Bangsa Indonesia.
Supriyadi bertekad bahwa perlawanan adalah harga yang harus dibayar demi sebuah kemerdekaan.
Meski demikian, Supriyadi tahu risiko dari pemberontakan adalah penangkapan bahkan hukuman mati.
Pada bulan Agustus 1944, pertemuan ketiga dilaksanakan.
Semakin banyak orang yang hadir dan rencana pemberontakan kian matang.
Pada 2 februari 1945, sebagian daidan sudah berangkat menuju Tuban dan Bojonegoro, Jawa Timur.
Pasukan lainnya diberangkatkan tanggal 5 Ferbuari 1945.
Ketika sampai di Kertosono, rombongan diperintahkan kembali ke Blitar, alasannya karena daidanco di Bojonegoro meninggal dunia.
Tiba-tiba Jepang juga memperketat aturan.
Prajurit tidak boleh bergerombol lebih dari lima orang dan tidak boleh melancong.
Merasa Jepang sudah mencium rencana pemberontakan, Supriyadi kembali mengadakan pertemuan rahasia.