Hari Ini Dalam Sejarah: Tentara PETA Memberontak di Hari Valentine, Supriyadi Lenyap Misterius
Usai memberontak, sosok tentara bernama Supriyadi hilang misterius. Sosoknya menjadi kontroversi
Mereka bersiap melakukan pemberontakan 13 Februari 1945 malam.
Pukul 03.00 tanggal 14 Februari 1945, pasukan PETA Blitar bersiap.
Shodanco Supriyadi kemudian memberi komando dengan meneriakkan 'Hajime!' yang dalam bahasa Jepang artinya mulai.
Pemberontakan PETA yang dipimpin oleh Supriyadi meletus di Blitar.
Tembakan pertama dilakukan dengan menembakkan mortir ke Hotel Sakura tempat di mana banyak Perwira Jepang.
Pasukan PETA yang ikut memberontak lalu menembaki tentara Jepang yang mereka jumpai di Blitar.
Markas kenpetai yang berisi perwira juga ditembaki, namun ternyata sudah dikosongkan.
Jepang sudah mengetahui jika Supriyadi akan memberontak dan mengirim pesawat untuk mengintai.
Melihat pasukan Supriyadi yang kian terdesak hingga ke Hutan Ngancar, Jepang memerintahkan Kolonel Katagiri untuk menemui pemimpin pemberontakan.
Katagiri kemudian menemui Muradi, pimpinan PETA selain Supriyadi di Sumberlumbu, Kediri.
Katagiri meminta Muradi agar menghentikan pemberontakan dan kembali ke markas.
Katagiri memberikan samurainya kepada Muradi.
Hal tersebut sebagai persetujuan bahwa Jepang akan memberikan pengampunan dan tidak akan melucuti tentara PETA.
Pemberontakan Supriyadi berhasil dipadamkan, namun Jepang tidak menepati janjinya.
Sebanyak 78 perwira PETA yang terlibat pemberontakan dilucuti oleh Jepang.