Breaking News:

PILKADA KEPRI

Pengamat Politik Ungkap Perpisahan Soerya dan Isdianto, Singgung Koalisi Partai di Pilkada Kepri

Pengamat Politik Endri Sanopaka, S.Sos.,MPM menyampaikan, perpisahan Soerya Respationo dan Isdianto itu menurutnya bukan settingan.

Penulis: Endra Kaputra | Editor: Septyan Mulia Rohman
tribunbatam.id
Pengamat politik Pilkada di Kepri, Endri Sanopaka, S.Sos.,MPM menyebut perpisahan antara Soerya Respationo dengan Isdianto di Pilkada Kepri bukan settingan. Ia juga berkomentar terkait koalisi sejumlah parpol untu Pilgub Kepri. 

TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Perpisahan Soerya bersama Isdianto menjadi sorotan, khususnya bagi pengamat politik.

Pengamat Politik Endri Sanopaka, S.Sos.,MPM menyampaikan, perpisahan itu menurutnya bukan settingan.

"Menurut saya bukan settingan. Apa yang terjadi sebagai realitas politik," ucapnya, Senin (2/3/2020).

Menurutnya, vonis kepada Gubernur Kepri non aktif, Nurdin Basirun dalam waktu dekat akan membawa Isdianto sebagai Gubernur Defintif.

Hal ini yang menurutnya membuat perpisahan itu terjadi. PDIP menurutnya akan memprioritaskan Ketua DPD PDIP Provinsi Kepri, Soerya Respationo menjadi calon Gubernur.

Kecewa dengan Sikap Isdianto, Soerya: Semoga Bertemu di Gelanggang Pilkada Kepri

Reaksi Ansar Ahmad Terkait Pilkada Kepri, Sayanglah, Capek Berjuang di DPR RI Belum Hilang

"Artinya Isdianto dalam beberapa bulan sebagai Gubernur, dan dalam karir politik dan pemerintahan masak harus wakil nantinya. Kalau memang Isdianto mau jadi calon Wakil Gubernur, harus mengundurkan diri sebelum penetapan Gubernur defenitif. Realita politiknya memang bagus untuk berpisah, dan menyatakan diri siap maju sebagai Calon Gubernur," ungkapnya.

Endri pun mengomentari terkait koalisi partai untuk Pilkada Kepri.

Ia menegaskan, sampai sekarang belum ada partai politik yang menyatakan berkoalisi.

"Belum ada partai yang menyatakan berkoalisi. Artinya bila ada pasangan muncul, saya rasa itu seakan pembohongan publik saja," tegasnya.

Menurutnya, tidaklah mungkin membentuk terlebih dahulu pasangan calon, baru terbentuk koalisi.

"Kita tahu bahwa tidak ada satu partai pun yang bisa mengusung. Sebab tidak sampai memenuhi 9 kursi di Pilgub. Jadi harusnya koalisi dulu dibentuk, baru pasangan. Contoh kabar Isdianto berpasangan dengan Marlin. Ini bagaimana maksudnya. Sementara kursi Nasdem saja kurang untuk mengusung, terus apakah mau bila nanti partai koalisinya setuju. Kalau Marlin okelah ada suaminya di Nasdem, kalau Isdianto respresentasi apa? Inikan namanya pembohongan publik," ucapnya.(TribunBatam.id/Endra Kaputra)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved