Fatwa MUI Soal Shalat Bagi Tenaga Kesehatan yang Gunakan APD, Boleh Tak Bersuci Jika Terdesak

Fatwa bernomor 17 tahun 2020 itu dikeluarkan oleh MUI pada Kamis (26/3/2020).

Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi simulasi terkait penanganan virus corona, Rabu (12/2/2020) 

Fatwa MUI Soal Shalat Bagi Tenaga Kesehatan yang Gunakan APD, Boleh Tak Bersuci Jika Terdesak

TRIBUNBATAM.id- Penyebaran virus Corona membuat sejumlah kegiatan masyarakat dibatasi.

Termasuk kegiatan dalam keagamaan.

Majelis Ulama Indonesia ( MUI) pun menerbitkan fatwa tentang pedoman shalat bagi tenaga kesehatan yang memakai alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien Covid-19.

Fatwa bernomor 17 tahun 2020 itu dikeluarkan oleh MUI pada Kamis (26/3/2020), ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa Asrorun Ni'am Sholeh.

Ada 11 ketentuan hukum dalam fatwa tersebut.

Secara umum, fatwa menyebutkan bahwa tenaga kesehatan yang tengah mengenakan APD karena menangani pasien Covid-19 tetap wajib untuk menunaikan shalat.

VIDEO - Penerapan Social Distancing di London, Belanja ke Supermarket Harus Antre dan Bergantian

Tak Patuhi Himbauan Berdiam di Rumah Polisi Malaysia Tangkap Sejumlah Warga, Ada yang Lagi Main Bola

Meski demikian, dalam kondisi tertentu, mereka dapat melaksanakan shalat dengan jama', baik ta'khir maupun taqdim.

Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung ikut serta dalam latihan dalam menangani pasien Covid-19, di Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali, pada 12 Februari 2020.
Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung ikut serta dalam latihan dalam menangani pasien Covid-19, di Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali, pada 12 Februari 2020. (AFP)

Dalam kondisi tertent,  tenaga kesehatan yang kesulitan mengambil air wudu juga diperbolehkan bertayamum.

Bahkan sama sekali tidak bersuci jika memang keadaan tak memungkinkan.

Inilah 11 ketentuan hukum yang diterbitkan dalam fatwa MUI, dikutip dari Kompas.com, :

1. Tenaga kesehatan muslim yang bertugas merawat pasien Covid-19 dengan memakai APD tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan berbagai kondisinya,

2. Dalam kondisi ketika jam kerjanya sudah selesai atau sebelum mulai kerja ia masih mendapati waktu shalat, maka wajib melaksanakan shalat fardhu sebagaimana mestinya,

3. Dalam kondisi ia bertugas mulai sebelum masuk waktu dzuhur atau maghrib dan berakhir masih berada di waktu shalat ashar atau isya, maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ ta’khir,

4. Dalam kondisi ia bertugas mulai saat waktu dzuhur atau maghrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan shalat ashar atau isya, maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ taqdim,

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved