Sabtu, 11 April 2026

TIPS SEHAT

Hati-hati, Periode Karantina yang Lama Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Ini Cara Mengatasinya

Orang yang terinfeksi atau terpapar pun sedang dikarantina dalam upaya untuk melindungi kesehatan masyarakat lainnya.

istimewa/google
Ilustrasi orang stres 

TRIBUNBATAM.id, BATAM- Istilah karantina atau isolasi diri belakangan ini akrab di telinga masyarakat.

Hal itu sejak kemunculan virus Corona yang menyebabkan pandemi global.

Diketahui saat ini seluruh dunia panik karena wabah virus Corona.

Orang yang terinfeksi atau terpapar pun sedang dikarantina dalam upaya untuk melindungi kesehatan masyarakat lainnya.

Sementara orang lain bekerja dari rumah atau work from home (WFH) ketika mereka biasanya berpergian.

Ada pula yang berlatih menjaga jarak atau physical distancing untuk menghindari tertular virus.

Cara Mengatasi Sulit Tidur Ketika Karantina atau Isolasi di Rumah

Lebih Buruk dari Corona, Dulu Pandemi Ini Tewaskan 100 Juta Penduduk Dunia, Dihentikan Tanpa Vaksin

Nah, praktik-praktik tersebut mungkin dapat menyelamatkan hidup, tetapi mungkin juga mendatangkan efek fisik dan mental yang tidak nyaman.

Inilah yang terjadi pada tubuh dan otak ketika kamu dikarantina.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Kamu mungkin akan berada dalam keadaan tidak menyenangkan setelah periode isolasi sosial, karena sejatinya manusia berkembang dan bertahan hidup, dalam interaksi sosial.

Dilansir GridID dari Business Insider, faktanya, orang yang memiliki hubungan sosial yang lebih lemah 50 persen lebih besar meninggal selama periode tertentu, daripada mereka yang memiliki koneksi yang lebih kuat, menurut meta-analisis 2015 termasuk lebih dari 308.000 orang.

Dengan kata lain, kesepian tampaknya sama mematikannya dengan merokok 15 batang sehari.

Itulah sebabnya merampas koneksi sosial, bahkan untuk sementara, sangat tidak menyenangkan.

Sempat Diusulkan Rp 315 M Lebih, Anggaran Percepatan Penanggulangan Covid-19 di Batam Belum Final

Libatkan Satu Mobil dan 4 Motor, Polisi Sebut Korban Kecelakaan di Muka Kuning Cuma Luka Ringan

“Jika kita berpikir tentang kesepian sebagai respons adaptif seperti kelaparan dan kehausan, keadaan tidak menyenangkan inilah yang memotivasi kita untuk mencari koneksi sosial seperti halnya kelaparan memotivasi kita untuk mencari makanan,” kata Julianne Holt-Lunstad, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di Universitas Brigham Young, kepada Insider.

 Tentu saja, dalam situasi seperti pandemi yang mengharuskan kamu untuk mengurangi atau menghilangkan kontak tatap muka, ketidaknyamanan perlu dilakukan untuk mencegah efek yang lebih berbahaya dan langsung.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved