Rabu, 3 Juni 2026

KILAS BALIK

Nasib Pilu Sang Jenderal, Sukses Basmi PKI tapi Mertua SBY Ini Malah 'Dilempar' ke Negara Komunis

Kiprah Brigadir Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo dalam militer Indonesia tak perlu diragukan lagi.

Tayang:
Kolase Tribun Jambi dan Wikipedia
Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo Ayah Ani Yudhoyono 

“Pada pagi 3 Oktober 1965, Soeharto dipanggil ke Bogor... Soeharto berangkat ke Bogor pagi itu dan melihat Sarwo Edhie yang baru saja keluar dari pertemuan dengan presiden. Dia tidak pernah percaya kepada Sarwo Edhie sejak itu,” kata Jusuf dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1995-1998.

Menurut Christianto Wibisono dalam Jangan Pernah Jadi Malaikat: Dari Dwifungsi Penguasaha, Intrik Politik, sampai Rekening Gendut, di antara generasi jenderal yang menonjol, memang tidak ada yang dijadikan wakil presiden oleh Soeharto.

Semua yang berpotensi disingkirkan, termasuk Sarwo Edhie, yang hanya berputar dari Pangdam Bukit Barisan, Pangdam Papua, gubernur Akademi Militer, duta besar di Korea Selatan, inspektur jenderal Departemen Luar Negeri, kepala BP7, dan terakhir mengundurkan diri dari DPR sampai akhir hayatnya pada 9 November 1989.\

Komandan Pembantaian Pasca-G30S

Pagi buta 1 Oktober 1965, menurut Julius Pour dalam G30S: Fakta dan Rekayasa (2013), rumah Sarwo di Cijantung didatangi dua ajudan Menpangad.

Dua ajudan itu melapor kepada Sarwo soal Yani yang mengenaskan.

Tak tunggu lama, Sarwo Edhi segera menghubungi Komandan Batalyon I RPKAD, Mayor Chalimi Iman Santoso.

Setelah tahu pasukan Mayor Santoso di Senayan, Sarwo beri perintah: “Tarik semua, kembalikan segera ke Cijantung [markas RPKAD].”

Kebetulan, di Cijantung ada pasukan RPKAD dari Kandang Menjangan, Solo.

Salah satu kompinya dipimpin Letnan Satu Feisal Tanjung yang di dalamnya terdapat peleton yang dikomandani Letnan Dua Sintong Pandjaitan.

Sedianya, pasukan Kandang Menjangan akan dikirim ke Kalimantan dalam rangka operasi ganyang Malaysia.

Hari itu, pasukan tersebut ikut serta di bawah komando Sarwo.

Mereka dilibatkan dalam pembersihan G30S. Peleton pimpinan Sintong bahkan merebut RRI.

Setelah 1 Oktober itu, Sarwo bersama pasukannya bergerak ke arah pangkalan udara Halim Perdanakusumah.

“Kolonel Sarwo Edhie Wibowo masuk pertigaan HEK dengan menumpang APC FV603 Saracen Kompi B Kostrad yang berstatus B/P pada RPKAD,” aku Sintong dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009) yang disusun Hendro Subroto. Ketika bergerak maju, pasukan ini terlibat baku tembak dengan lawannya. (*)

SUBSCRIBE YOUTUBE CHANEL TRIBUN BATAM OFFICIAL:

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Kisah Terbuangnya Mertua SBY oleh Soeharto ke Negara Komunis, Padahal Jadi Sosok Pembasmi PKI

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved