Nasib Haru Mantan Supir Bus, Terpaksa Mudik Jalan Kaki Selama 4 Hari Pasca di PHK Perusahaan
Hal itu seperti yang dirasakan oleh seorang sopir bus asal Batang, Jawa Tengah, Maulana Arif Budi Satrio (38).
Mereka iba dengan kondisi Rio yang berjalan kaki dari Cibubur untuk bisa pulang ke kampung halaman.
"Saya pernah ditanya mau ke mana?
Saya jawab mau ke Solo.
Mereka terkejut.
Ada yang minum sampai kesedak.
Terus saya mau bayar pemilik warung tidak mau dibayar," paparnya.
Rio tiba di Solo, Jumat (15/5/2020) sekitar pukul 08.00 WIB.
Ia langsung dibawa ke gedung karantina milik Pemkot Solo di Graha Wisata Niaga Jalan Slamet Riyadi untuk menjalani karantina selama 14 hari di gedung tersebut.
Karantina dilakukan karena baru saja pulang mudik dari zona merah penyebaran virus corona.
Selama karantina di gedung tersebut, semua kebutuhan makanan disiapkan oleh Pemkot Solo.
Rio mengaku sempat berpikir tempat karantina itu tidak nyaman dan seperti penjara.
Namun, setelah beberapa hari menjalani proses karantina, Rio mengaku sangat nyaman dan betah tinggal di tempat karantina.
"Saya kaget.
Di sini teman-teman yang juga menjalani karantina itu sudah seperti keluarga.
Makan terjamin, tidur nyaman, saya dapat kasur baru yang masih diplastik.
Jadi benar-benar luar biasa bagi sana.
Sangat memanusiakan manusia," ucap Rio.
Disinggung apa rencana setelah selesai menjalani karantina, Rio menjawab ingin berziarah ke makam kedua orangtuanya di pemakaman umum Bonoloyo, Kadipiro, Solo.
"Rencananya setelah keluar karantina saya mau ke makam orangtua di Bonoloyo," ujar dia.
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Cerita Pilu Sopir Bus di-PHK, Mudik Jalan Kaki 5 Hari Jakarta-Solo Sejauh 440 Km
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/sopir-bus-nekat-mudik-jalan-kaki-sejuh-440-km-jakarta-solo.jpg)