Lembah Galwan Diklaim Sepihak China, Sudah Jadi Sengketa dengan India Sejak 45 Tahun Lalu

Konfrontasi yang terjadi di Lembah Galwan, bagian dari wilayah Ladakh, sepanjang perbatasan Himalaya itu paling mematikan dalam 45 tahun.

AFP/TAUSEEF MUSTAFA
Seorang tentara India berjaga di pos perbatasan India - China menyusul perselisihan antara kedua pihak yang menewaskan 20 tentara India. 

TRIBUNBATAM.id, BEIJING  - China mengklaim Lembah Galwan yang berada di wilayah perbatasan Himalaya sepenuhnya berada di wilayah kekuasaannya. Lembah ini menjadi lokasi pasukan China dan India terlibat dalam bentrok mematikan awal pekan ini.

Dengan berani, sebagaimana dilansir Al Arabiya, pihak Beijing mengklaim daerah yang disengketakan itu, ketika pihaknya terus menggunakan saluran militer dan diplomatik untuk mengurangi ketegangan.

Konfrontasi yang terjadi di Lembah Galwan, bagian dari wilayah Ladakh, sepanjang perbatasan Himalaya itu merupakan yang paling mematikan dalam 45 tahun terakhir.
India menuduh China telah memulai pertengkaran dengan mengembangkan infrastruktur di lembah tersebut, yang dianggap telah melanggar perjanjian antara kedua belah pihak.

Pada pernyataannya yang dia unggah di Twitter, Zhao Lijian mengatakan bahwa Lembah Galwan terletak di sisi China dari Garis Kontrol Aktual di bagian barat perbatasan China-India.

Dia menyalahkan serangan tentara India di area itu sejak awal Mei sampai tengah malam di mana bentrok mematikan terjadi pada Senin awal pekan ini dan menewaskan 20 tentara India.

China sendiri tidak menyebut angka korban dari pihak mereka. Para tentara melakukan baku hantam dan saling lempar batu di ketinggian 14.000 kaki di atas permukaan laut.

Namun, tidak ada baku tembak dalam bentrokan tersebut karena senjata dilarang dalam perjanjian. Pejabat keamanan India mengatakan korban kematian dari pihak India disebabkan oleh luka parah dan kedinginan akibat suhu wilayah itu yang teramat dingin, di bawah nol derajat.

Lembah itu berada dalam jarak yang jauh dari Garis Kontrol Aktual 3.380 kilometer. Ada pun perbatasan didirikan setelah perang antara India dan Cina pada 1962 yang mengakibatkan gencatan senjata yang tidak mudah.

Ajak boikot produk China
Perdana Menteri India, Narendra Modi pada Jumat (19/6) mengatakan negaranya 'terluka dan marah' setelah bentrok dengan tentara China di perbatasan Himalaya dan menewaskan 20 tentara India.

Modi memperingatkan bahwa India telah memberikan kuasa pada tentaranya untuk merespons tiap kekerasan baru yang terjadi.

India dan China telah saling tuduh tentang siapa yang salah atas peristiwa bentrok yang tragis pada Senin awal pekan ini, sebagaimana dilansir UK News Yahoo.

Modi mengadakan pertemuan langka dengan para pemimpin partai oposisi untuk mendiskusikan krisis itu beberapa jam setelah China membebaskan 10 tentara India termasuk 2 tentara mayor yang ditahan dalam pertarungan di Lembah Galwan wilayah Ladakh, Himalaya.

Di tengah meningkatnya seruan untuk memboikot produk-produk China dan publik India yang antusias melihat pemakaman para tentara yang tewas, Modi mengatakan,

"Seluruh rakyat India terluka dan marah pada langkah-langkah yang diambil China." Perdana menteri membantah bahwa pasukan China berada di dalam teritorialnya dan bersikeras bahwa 'menegakkan kedaulatan adalah yang terpenting' bagi pemerintah nasionalis Hindu-nya.

"Angkatan bersenjata telah diberikan kebebasan untuk mengambil semua langkah yang diperlukan," kata Modi.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved