Minggu, 19 April 2026

Mengenal Pernikahan Adat Melayu, Warisan Kesultanan Riau Lingga

Pernikahan adat melayu didominasi warna kuning, peninggalan Kesultanan Riau Lingga. Fungsi dari peterakne ini adalah tempat acara tepuk tepung tawar

media centre batam
Pernikahan adat melayu didominasi warna kuning, peninggalan Kesultanan Riau Lingga. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Pernahkah Anda melihat atau menghadiri acara pernikahan adat Melayu?

Jika iya, pasti akan melihat warna kuning mendominasi ruangan pernikahan adat Melayu.

Warga kuning terlihat baik di area pelaminan hingga dekorasi. Selain warna kuning, terlihat juga warna lain yakni hijau dan merah.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui bahwa Batam dahulunya bagian dari Kesultanan Riau Lingga, Johor, dan Pahang. 

Kesultanan ini memang telah berakhir tahun 1913 silam.  Namun, pengaruh dan jejak budaya yang ditinggalkan tetap jadi warisan hingga kini. Salah satunya, terkait adat upacara perkawinan.

Dilansir media centre batam, tabir berwarna kuning, hijau, dan merah, yang disebut dengan tabir belang, digunakan untuk mengelilingi ruangan tempat dilaksanakannya upacara perkawinan adat Melayu.

Dapat Merusak Kualitas Tidur, Inilah 5 Jenis Makanan yang Harus Dihindari pada Malam Hari

Di langit-langit, terdapat hiasan bernama kondas, serta hiasan seperti lidah berwarna keemasan. Keduanya akan menambah kesan mewah.

Masyarakat kebanyakan menyebut pelaminan adalah tampat sepasang pengantin bersanding. Namun, bagi masyarakat Melayu, ada yang sedikit berbeda.

Pelamin adalah tempat tidur pengantin. Di sekelilingnya, dihias dengan tabir belang, artinya tabir berwarna warni.

Kemudian, ada tabir pukang ayam, berjumlah tiga tabir yang di dalamnya terdapat tabir gulung namun tidak kelihatan. Cara menurunkan tabir gulung ke bawah menggunakan kayu, namun baru diturunkan saat pengantin akan tidur.

Di tabir pukang ayam itu terdapat sulam tekat, yang berupa motif dari kertas prada atau benang songket yang disulam. Motifnya, menyesuaikan lambang Islam, yakni bulan bintang. Susunan bantal juga menghias di pelamin, terdapat empat bantal gadok, delapan bantal seraga, bantal telur buaya dan bantal sandar. Tak lupa, dilengkapi bantal guling, serta kasur.

“Inilah yang disebut dengan pelamin atau tempat tidur,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Muhammad Zen, di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM), Batam Centre, Kamis, (2/7)

Zen menunjukkan, di pelamin sendiri, terdapat ulas atau tangga bermotif kertas prada atau kuningan. Warna ulas sendiri berwarna hijau dan motifnya berwarna keemasan dan kainnya berwarna merah. Pada ulas yang menyentuh lantai tidak diberikan motif, hanya kain saja disebut gerai.

“Pada zaman dulu, pelamin ini dengan tempat bersanding itu berhadapan seperti terdapat di Rumah Limas Potong di Batubesar, Nongsa, yang disekat menjadi dua. Dalam kamar itulah dibuat pelamin dan tempat bersanding, kemudian di sekelilingnya dihiasi tabir,” tuturnya.

Tempat bersanding pengantin juga bertingkat-tingkat. Dalam bahasa Melayu, disebut peterakne, yang terbagi dari tiga kata. Yakni, pe yang artinya peti atau kotak, rak artinya bertingkat, dan ne artinya lebih dari satu. Jumlah tingkatan peterakne harus ganjil karena Melayu identik dengan budaya Islam yang banyak menggunakan angka ganjil, serta dihias dengan tekat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved