Mengenal Pernikahan Adat Melayu, Warisan Kesultanan Riau Lingga
Pernikahan adat melayu didominasi warna kuning, peninggalan Kesultanan Riau Lingga. Fungsi dari peterakne ini adalah tempat acara tepuk tepung tawar
Jumlah tingkatan, misalnya tiga, pada umumnya untuk para datuk. Sedangkan lima tingkatan, untuk kerabat Sultan. Bantal sadok berada di belakangnya dan tempat bersandar.
Kemudian, tabir selak terdapat di kiri dan kanan. Dalam tempat bersanding ini, yang wajib ada adalah peti atau kotak.
Berbeda dengan sekarang, zaman dahulu hanya pengantin yang bersanding. Fungsi dari peterakne ini adalah tempat acara tepuk tepung tawar, makan bersuap, setelah itu makan berhidang di bawah pelamin. Kedua pengantin makan Nasi Besar atau pulut kuning, saat duduk di atas peterakne atau pelaminan.
Saat menyuap, dilakukan dengan suapan yang sangat sedikit. Acara saling suap itu dibimbing oleh Mak Andam, dilakukan sebanyak tiga kali bergantian. Urutannya, istri kepada suami dan suami kepada istri. Setelah itu, suaminya mengajak istrinya turun dari peterakne dengan mengaitkan kedua kelingking.
“Di bawah pelamin untuk makan berhadapan, didampingi oleh Mak Andam, yang artinya pelayanan istri terhadap suami setelah menikah,” terangnya.
Seperti kebanyakan tempat bersanding dari daerah lain, terdapat payung pengantin. Dalam budaya Melayu, juga terdapat payung yang terletak di sebelah kiri dan kanan peterakne. “Payung ada, namun payungnya ditutup, tidak boleh dikembangkan. Kalau berarak, baru payung dikembangkan. Warna payungnya warna kuning, melambangkan ciri khas Melayu,” katanya.
Pada pelamin Melayu, memiliki warna kebesaran yakni kuning, hijau, biru, hitam, dan merah. Untuk warna kuning, untuk kerabat sultan dan anak-anaknya. Warna hijau untuk para alim ulama, biru untuk pembesar istana, warna merah untuk laksmana dan panglima, sementara hitam untuk pemangku adat.
Sementara di Malaysia, sambung dia, terdapat perbedaan menurut kesepakatan daerah masing-masing. Sultan itu bertempat tinggal di Lingga, Yang Dipertuan Muda atau sekarang seperti Perdana Menteri. Sementara yang di Batam, berkedudukan Temenggung. Temenggung ini adalah orang pembesar istana bertempat di Pulau Bulang.
“Temenggung Abdul Jamal adalah waris dari Kesultanan Johor, warna kebesaran warna biru. Makanya Sultan Johor itu tidak memakai warna kuning bajunya, dia hanya menggunakan warna biru. berbeda dengan keturunan Pahang karena keturunan bendahara,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata mengatakan, Kota Batam melekat dengan kebudayaan Melayu. Seperti, pada kulinernya, adat perkawinannya, dan busananya. Karena itu, budaya Melayu harus dijunjung tinggi.
“Melayu melekat di Kota Batam dan hadir di setiap kegiatan kebudayaan. Kita selalu menggelar kegiatan Kenduri Seni Melayu (KSM) yang berupaya mengenalkan kembali suasana budaya Melayu,” katanya.
Ardi mengajak masyarakat untuk senantiasa mencintai budaya Melayu. Seperti, saat acara pernikahan. Sehingga, pernikahan adat Melayu dilaksanakan. Kemudian nasi besar yang dibuat dari pulut kuning dan dihidangkan saat perayaan kebesaran seperti acara bertambahnya usia, pernikahan, dan sebagainya. Sehingga, budaya ini selalu hadir dan ada di tengah masyarakat Kota Batam. Karena itu, pihaknya akan mendorong agar lebih banyak warga Batam yang melestarikan pada setiap acara.
“Bagi yang ingin mengetahui tentang pelamin, peterakne dan kebudayaan Melayu, silahkan datang ke Kantor Disbudpar Batam di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM), kami akan menjelaskan detailnya,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0707_pernikahan-adat-melayu.jpg)