Selasa, 28 April 2026

Sempat Temukan Klaster Baru Covid-19, China Cabut Larangan Perjalanan ke Beijing

Beijing sempat melaporkan kembali penemuan klaster baru penyebaran Covid-19. Namun kini, pemerintah China sudah mencabut larangan bepergian ke Beijing

kompas.com
Ilustrasi warga Beijing di tengah wabah Covid-19. Meski masih positif, Beijing cabut larangan perjalanan. 

TRIBUNBATAM.id, BEIJING - Beijing sempat melaporkan kembali penemuan klaster baru penyebaran virus Corona atau Covid-19 usai China membuka lockdown.

Namun kini, pemerintah China sudah mencabut larangan bepergian ke Beijing.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Juru bicara Biro Keamanan Beijing, Pan Xuhong.

Ia mengatakan setiap warga yang tinggal di kawasan "berisiko rendah" dapat meninggalkan Beijing tanpa tes.

Kebijakan tersebut berlaku mulai Sabtu (4/7/2020).

Xuhong mengklaim strategi penanganan virus Corona di kota tersebut berhasil memutus transmisi penyebaran virus.

China Pamer Kekuatan Militer di Laut China Selatan, Amerika Berikan Kecaman

Dia juga mengklaim beberapa hari terakhir ini jumlah kasus positif Covid-19 di Beijing kurang dari 3 setiap harinya.

"Faktor risiko telah berkurang drastis. Tidak ada tanda-tanda penyebaran virus di masyarakat luas," kata Xuhong sebagaimana dilansir dari AFP, Jumat (3/7/2020).

Pengumuman tersebut datang setelah Beijing mencabut karantina wilayah setelah sebelumnya ditemukan ratusan kasus yang terkait dengan Pasar Xinfadi Beijing.

Pejabat Beijing, Zhang Qiang, berujar bahwa ibu kota Negeri "Panda" tersebut telah mengetes lebih dari 10 juta orang, hampir separuh populasi kota, sejak 11 Juni hingga 3 Juli 2020.

Nucleic acid test (NAT) digunakan sebagai metode pengetesan virus Corona kota itu.

Tes tersebut dinilai kurang terbukti mengonfirmasi infeksi virus Corona.

Akhir-akhir ini beberapa kasus dinyatakan positif terinfeksi virus Corona setelah beberapa hari sebelumnya menunjukkan hasil negatif.

Pada Mei, China dianggap mampu mengendalikan virus Corona sebelum klaster Beijing muncul.

Setelah klaster itu muncul, pemerintah China langsung menerapkan karantina total terhadap hampir setengah juta orang.

Langkah tersebut diadopsi dari strategi China di Wuhan awal tahun ini.

China Uji Ribuan Sampel Makanan Terhadap Covid-19, Semua Tunjukkan Hasil Negatif

China kembali melaporkan penemuan klaster virus Corona atau Covid-19 usai longgarkan lockdown.

Kluster tersebut ditemukan di pasar makanan segar di Beijing.

Hal ini membuat ribuan sampel makanan laut impor, domestik, daging, dan sayuran di China telah diuji terhadap virus Corona.

Hasil penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa semuanya negatif.

Hal ini sesuai dengan konsensus organisasi kesehatan dan pangan internasional bahwa tidak ada bukti virus Corona jenis baru menyebar melalui bahan makanan atau kemasan.

Namun, itu tidak menghentikan China memperketat kontrol pada impor di tengah kekhawatiran wabah yang mungkin terkait dengan makanan dari luar negeri.

Pembatasan termasuk pelarangan produk dari pabrik daging asing tertentu dan meminta eksportir untuk mengonfirmasi keselamatan pengiriman mereka.

Langkah itu telah menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat, yang memiliki kesepakatan perdagangan dengan China dalam melibatkan volume besar ekspor makanan.

"Tidak ada bukti bahwa orang dapat tertular Covid-19 dari makanan atau dari kemasan makanan," kata Sekretaris Pertanian AS Sonny Perdue dan komisioner Administrasi Makanan dan Obat-obatan Stephen Hahn seperti dilansir dari South China Morning Post, (26/6/2020).

"Sistem keamanan pangan AS, yang diawasi oleh agen kami, adalah pemimpin global dalam memastikan keamanan produk makanan kami, termasuk produk untuk ekspor," lanjut dia.

Mencari sumber penularan

Meski begitu, wabah telah membingungkan pemerintah di China setelah berjalan selama 55 hari tanpa infeksi baru yang dilaporkan. Sumbernya masih belum diketahui.

Pejabat kesehatan China telah mengakui bahwa kontaminasi dari luar negeri hanya satu teori, dan seorang pejabat bea cukai pekan lalu mencatat bahwa risiko penyebaran virus Corona melalui perdagangan makanan sangat rendah.

Sebuah buletin kesehatan masyarakat yang diedarkan minggu ini oleh media pemerintah tidak menyurutkan keinginan untuk mengonsumsi makanan impor, tapi lebih menekankan kebersihan dan penanganan yang tepat.

China dan Norwegia, penghasil salmon terbesar di dunia, keduanya sepakat bahwa ikan Norwegia bukan sumber infeksi di Beijing, tapi ini tidak mencegah penurunan tajam dalam penjualan makanan laut dan produk yang sudah ditarik dari rak-rak supermarket.

Demikian juga pedoman untuk bisnis makanan yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikatakan bahwa sangat tidak mungkin orang dapat terinfeksi Covid-19 dari makanan atau kemasan makanan.

Mereka juga menggarisbawahi pentingnya kebersihan yang layak untuk mengurangi risiko permukaan makanan dan bahan kemasan makanan yang terkontaminasi dengan virus dari pekerja yang sakit.

Penelitian telah menunjukkan bahwa Covid-19 dapat bertahan hidup di beberapa permukaan selama beberapa hari dalam pengaturan laboratorium.

Profesor epidemiologi Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong Benjamin Cowling mengatakan, meskipun secara teori masuk akal, sangat tidak mungkin bahwa Covid-19 dapat melakukan perjalanan jauh dengan daging atau produk makanan lainnya, dan menyebabkan infeksi setelah perjalanan panjang itu.

"Saya tidak berpikir pengawasan produk makanan atau kemasan makanan kemungkinan akan mencegah penularan Covid-19," kata dia.

Ia menambahkan, dirinya juga tidak mengetahui bukti penyebaran penyakit semacam ini bahkan dalam kasus jarak yang lebih pendek seperti pengiriman domestik.

Impor dihentikan

China menghentikan sementara impor dari pabrik daging babi di Jerman pada 18 Juni 2020 milik Toennies Group dan pengolah ayam Tyson Foods di Amerika Serikat pada hari Minggu, setelah Covid-19 mewabah di antara para pekerja.

Menurut otoritas bea cukai China, satu unit daging sapi di bawah Agra Brasil dan pabrik daging babi Inggris yang dimiliki oleh Pilgrim's Pride secara sukarela menghentikan ekspor ke China setelah para pekerja dinyatakan positif terkena virus Corona.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Gao Feng pada 18 Juni lalu menyampaikan, China akan memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan negara-negara terkait, untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan impor dan produk pertanian dari sumbernya, serta menjaga kesehatan dan keselamatan konsumen China.

Para ilmuwan sebagian besar skeptis tentang kemanjuran pengujian dan pelarangan impor makanan.

"Kami tidak mengantisipasi bahwa produk makanan perlu ditarik kembali atau ditarik dari pasar karena Covid-19.

Karena saat ini tidak ada bukti yang mendukung transmisi Covid-19 terkait dengan makanan atau kemasan makanan," tulis Administrasi Makanan dan Obat AS dalam situsnya.

Spesialis keamanan makanan, Benjamin Chapman, seorang profesor di North Carolina State University di AS, setuju bahwa makanan bukanlah rute penularan yang berisiko tinggi karena belum ada kelompok penyakit di sekitar makanan umum atau paket makanan.

Namun di sisi lain dia mengakui kurangnya penelitian tentang makanan sebagai rute transmisi.

"Selama 18 bulan ke depan, komunitas keamanan pangan harus benar-benar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan data dan penelitian tambahan," kata dia.

Peringatannya, lanjut dia, benar-benar perlu secara kolektif fokus pada pengurangan penularan dari orang ke orang sebanyak yang bisa dilakukan, sehingga makanan tidak seharusnya tidak menjadi fokus langsung.

Bagaimana dengan ternak?

Ilmuwan lain berpendapat bahwa fokus pada pengujian massal daging impor untuk kontaminasi permukaan kehilangan area yang lebih penting dari rantai makanan yang perlu dipantau yaitu ternak.

"Apa yang perlu dilihat adalah ternak sebelum dipanen, apakah ada bukti virus pada ternak?," kata Gregory Gray, seorang ahli epidemiologi dan profesor penyakit menular di Universitas Duke, yang bekerja di kampus-kampus yang berafiliasi di AS, Singapura dan China.

Studi terpisah di Friedrich Loeffler Institut Jerman dan Institut Penelitian Veteriner Harbin di China sama-sama menemukan bahwa babi dan ayam tidak rentan terhadap SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.

Berdasarkan bukti saat ini, Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan tidak merekomendasikan pengujian luas terhadap hewan.

Tetapi Gray mengatakan hasil ini mungkin tidak mewakili situasi kehidupan nyata di peternakan, di mana hewan seperti babi mungkin telah melemahkan sistem kekebalan tubuh karena virus sirkulasi lain yang mungkin mereka tampung tidak membuat mereka sakit secara fisik.

"Orang bertanya-tanya apakah banyak virus pernapasan dapat menyebabkan beberapa dari kawanan produksi itu menerima SARS-CoV-2 dan menjadikan babi sebagai reservoir yang memperkuat," katanya.

Mencatat kasus semacam itu akan membuat orang yang bekerja dengan dan memotong ternak berisiko, daripada konsumen.

“Sampling sistematis ternak akan bermanfaat,” ujar dia.

Tracey McNamara, seorang profesor patologi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Western Health di California, yang baru-baru ini ikut menulis sebuah artikel yang menyerukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana SARS-CoV-2 dapat menginfeksi hewan, mengatakan bahwa memeriksa berbagai rute dari penularannya penting, bahkan termasuk tindakan China untuk menguji kontaminasi permukaan makanan.

"Anda memiliki virus baru yang mengejutkan kami di setiap kesempatan, dan jika Anda khawatir bagaimana dengan ini atau apa tentang itu, lakukan saja penelitian," kata McNamara.

McNamara pernah menyelidiki hubungan antara penyakit yang menyerang burung dan penyakit misterius muncul pada manusia, yang ternyata merupakan virus West Nile pada 1999.

(*)

Waspadai China, Australia Gelontorkan Rp 2.700 Triliun Bangun Kekuatan Militer

China VS India Masih Belum Berdamai, India Klaim 40 Tentara China Tewas Terluka Dalam Perkelahian

Niat Hancurkan Bunker yang Dibangun China di Perbatasan, India Borong Rudal Pintar Buatan Israel

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Meski Masih Positif, Beijing Cabut Larangan Perjalanan".

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved