TRIBUN WIKI

Mengenal Suku Laut, Pribumi Asli Kepulauan Riau yang Hidup Berkelana dengan Sampan

Kehidupan Orang laut terbilang sangat sederhana. Mereka yang bermukim di atas sampan hanya ditutupi kajang sebagai pelindung dari panas dan hujan.

Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga via disbudkepriprov.go.id
Potret kehidupan Orang Laut di atas sampan 

TRIBUNBATAM.id - Kepulauan Riau (Kepri) dihuni oleh banyak suku, baik suku asli maupun pendatang.

Hal ini membuat Kepri memiliki kebudayaan yang beragam.

Ragam kebudayaan tersebut banyak juga yang diadopsi dari budaya para pendatang.

Kendati demikian, provinsi yang belum genap berusia 18 tahun ini juga memiliki banyak kebudayaan asli yang masih lestari hingga kini.

Wilayah geografis provinsi Kepri yang dikelilingi laut membuat banyak masyarakatnya menggantungkan hidup dengan melaut.

Itulah sebabnya, di Provinsi Kepri hidup suku Laut.

Sekilas tentang suku Laut

Selain suku Melayu, suku Laut merupakan suku asli yang menghuni Kepulauan Riau.

Suku Laut atau yang juga dikenal dengan Orang Laut bermukim di sejumlah pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga.

Mereka juga tersebar di Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, selatan semenanjung Malaya, dan di sepanjang pantai timur Sumatera.

Dalam berkomunikasi, Orang Laut menggunakan Bahasa Melayu Lokal.

Mereka menghabiskan hampir seluruh hidupnya di laut.

Tidak hanya berdiam diri di satu tempat, Orang Laut gemar hidup berkelana dan berpindah-pindah di atas perahu.

Itulah sebabnya mereka juga dijuluki Kelana Laut.

Kehidupan Orang laut terbilang sangat sederhana.

Mereka yang bermukim di atas sampan hanya ditutupi kajang sebagai pelindung dari terik panas dan hujan.

Untuk menafkahi hidup, mereka mencari ikan dengan peralatan sederhana, seperti tempuling, tombak dan serampang.

Sejarah suku Laut

Melansir situs resmi Disbud Kepri, Suku Laut mulai menghuni wilayah Melayu-Lingga pada tahun 2500-1500 sebelum masehi sebagai bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua.

Mereka menyebar ke sebagian besar wilayah Sumatera melalui Semenanjung Malaka.

Tahun 1500 sebelum masehi, mereka terdesak ke arah pesisir laut karena adanya arus migrasi besar-besaran oleh bangsa Deutro Melayu.

Melansir situs resmi Disbud Kepri, Suku Laut dulunya adalah kawanan perompak.

Mereka berperan penting dalam kejayaan Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, dan Kerajaan Sriwijaya.

Tugasnya adalah menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, hingga memandu para pedagang ke pelabuhan kerajaan-kerajaan tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang setia terhadap kerajaan.

Dulu, saat Kesultanan Malaka jatuh digantikan Kesultanan Johor, mereka meneruskan kesetiannya pada kerajaan tersebut.

Tahun 1699, Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh.

Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Pada 1718, Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya.

Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis, Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor.

Setelah terusir dari Johor, Raja Kecil berhasil mendirikan Kesultanan Siak berkat bantuan Orang Laut.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

Tari Rawai

Suku laut yang hidup di Kabupaten Lingga memiliki tarian adat bernama Tari Rawai.

Rawai adalah alat untuk menangkap ikan yang terbuat tali atau rotan.

Rotan tersebut direntangkan dan dilengkapi dengan beberapa kail yang diikatkan.

Mereka biasa menangkap ikan dengan cara merawai.

Cara tradisional ini menjadi inspirasi Tari Rawai yang masih lestari hingga kini.

Tarian tersebut mengisahkan kehidupan Orang Laut yang bersama-sama pergi merawai ikan dengan satu sampan.

Biasanya, tarian ini ditampilkan pada acara tertentu untuk menghibur masyarakat.

Sayangnya, Tari Rawai terancam punah lantaran sudah jarang ditampilkan.

Ada dua versi asal usul tari merawai ini.

Versi pertama, tari merawai merupakan tarian asli Orang Laut yang ada di Pulau Lipan, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga.

Sedangkan versi kedua menyebutkan, tarian merawai adalah tarian orang pesisir dan tepat disebut menjadi milik Orang Laut.

Alasannya, sejumlah Orang Laut yang ada di Lingga, seperti Kelumu maupun di Senayang tak kenal dengan tari merawai.

Hanya Orang Laut dari Pulau Lipan yang akrab dengan istilah tari merawai ini.  

(TRIBUNBATAM.id/Widi Wahyuning Tyas)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved