Sosok Jendral Hendropriyono, Pernah Lawan KKB Kalimantan Hingga Jari Nyaris Putus
Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono pernah melakukan duel sengit melawan pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kalimantan.
TRIBUNBATAM.id - AM Hendropriyono Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Indonesia pertama sangat disegani oleh dunia.
Sebab selama berkarir, Hendropriyono banyak menjalankan tugas rahasia dari negara
Misi-misi yang dijalankan oleh mertua Jenderal Andika Perksasa ini selalu berhasil
Seperti dalam kisah penumpasan KKB di Kalimantan.
• Kymco Luncurkan dua Scooter Baru, X-Town 250i dan GP 125, Ini Spesifikasi Lengkapnya
• Selama Locdown Banyak Tamu Hotel Berhubungan Intim Dengan Karyawan Hotel, Hal Menakutkan Ini Terjadi
• UU Keamanan Nasional, Amerika Serikat Peringatkan Warganya di China: Kalian Bisa saja Dipenjara!
Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono pernah melakukan duel sengit melawan pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kalimantan.
Hendropriyono saat itu hanya menggunakan pisau komando, dan bahkan jari-jarinya hampir putus saat melawan pimpinan KKB Kalimantan itu.
Sekadar informasi, PGRS dan Paraku merupakan KKB Kalimantan yang awalnya adalah pasukan bentukan TNI di masa konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966).
Saat presiden Soeharto berkuasa, PGRS dan Paraku diminta untuk meletakkan senjata karena Indonesia memutuskan berdamai dengan Malaysia.
Karena PGRS tidak menyerah, maka terpaksa TNI melakukan penumpasan.
Mulai saat itulah Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) menugaskan Hendropriyono dan pasukannya untuk memburu KKB Kalimantan PGRS dan Paraku.
Duel berdarah berawal saat informasi tentang Ah San bocor melalui istrinya yang berkhianat, Tee Siat Moy.
Siat Moy mau membantu Kopassandha dengan syarat Ah San tak dibunuh.
Maka, Hendropriyono pun memimpin 11 prajurit Halilintar Prayudha Kopasandha untuk meringkus Ah San hidup-hidup.
Mereka tidak membawa senjata api, hanya pisau komando sebagai senjata.
Hanya Hendropriyono yang membawa pistol untuk berjaga-jaga.
3 Desember 1973 pukul 16.00, tim mulai merayap ke sasaran yang jauhnya sekitar 4,5 km melewati hutan rimba yang lebat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/09-07-2019-jenderal-tni-purn-am-hendropriyono.jpg)