Usai Ditemukan di Mongolia, Amerika Serikat Laporkan Adanya Pes Pada Seekor Tupai
Mongolia melaporkan kematian seorang rejama akibat wabah Pes. Baru-baru ini bakteri penyebab Pes ditemukan ada pada seekor tupai di Amerika Serikat.
TRIBUNBATAM.id, MORRISON - Kabar mengejutkan terkait wabah Pes datang dari Amerika Serikat.
Sebelumnya, Mongolia melaporkan kematian seorang rejama akibat wabah ini.
Bahkan daerah perbatasannya dengan China sudah memberlakukan karantina.
Pes adalah kondisi infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang dibawa dan ditularkan oleh beberapa jenis binatang, seperti tikus, marmut, kelinci, anjing, dan kucing.
Infeksi mematikan ini beberapa hari yang lalu ditemukan di salah satu wilayah di Mongolia pada seorang penggembala.
Akibat wabah Pes ini, orang yang terinfeksi harus menjalani karantina meskipun kondisinya stabil.
• Ketegangan AS-Tiongkok di Laut China Selatan Semakin Meningkat, Bagaimana Sikap Indonesia?
Kali ini, bakteri penyebab Pes ditemukan ada pada seekor tupai di Colorado, Amerika Serikat.
Melansir CNN, Selasa (14/7/2020), tupai itu dikonfirmasi positif membawa bakteri Pes Sabtu (11/7/2020) di kota Morrison.
Berdasarkan informasi yang dikeluarkan Departemen Kesehatan Masyarakat Negara Bagian Jefferson (JCPH), temuan Pes pada tupai kali ini merupakan kasus pertama Pes di negara bagian Colorado, Amerika Serikat untuk tahun 2020.
Pandemi Black Death
Sebelumnya wabah Pes telah ada sejak berabad-abad lalu dan menyebabkan pandemi mematikan dalam sejarah peradaban manusia.
Diperkirakan, ada lebih dari 50 juta orang di Eropa meninggal selama masa pandemi yang lebih dikenal dengan istilah pandemi Black Death di akhir abad ke-14 ini.
Atas adanya temuan kasus Pes di Colorado, JCPH memperingatkan masyarakat bahwa bakteri tersebut dapat menginfeksi tidak hanya binatang, namun juga manusia jika pencegahan serius tidak dilakukan.
Bakteri Pes bisa ditransmisikan melalui gigitan kutu atau binatang yang sudah terinfeksi.
Meskipun antibiotik di era modern ini sudah dapat mencegah terjadinya komplikasi dan kematian apabila diberikan secara cepat, wabah ini tetap menjadi ancaman besar bagi manusia dan binatang.
Pes bagi penderitanya dapat mendatangkan rasa sakit, terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening, demam, menggigil, dan batuk.
Jika tidak diobati secara cepat dan tepat, Pes dapat berubah menjadi penyakit pernapasan dan menyebabkan pneumonia, apabila bakteri sudah menyebar hingga ke paru-paru.
Melihat temuan di Mongolia dan Colorado ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan wabah ini sebagai penyakit yang kembali muncul.
Hingga 2.000 kasus per tahun
Dari data WHO, tercatat setidaknya ada 1.000-2.000 kasus Pes dari seluruh dunia di setiap tahunnya.
Namun angka itu masih terbilang kecil, karena bisa jadi ada banyak kasus yang tidak dilaporkan.
Di Colorado sendiri, dilaporkan ada dua orang meninggal akibat menderita Pes pada tahun 2015.
Pengobatan dan pencegahan
Melansir Kompas.com (7/7/2020) yang mengutip buku Mengenali Keluhan Anda: Info Kesehatan Umum untuk Pasien (2013) oleh Dr. Ayustawati, PhD ada beberapa cara pencegahand an pengobatan penyakit Pes.
Cara mengobati penyakit Pes
Penderita yang terserang Pes perlu penanganan secepat mungkin.
Apabila penanganan tidak didapatkan penderita dalam waktu 24 jam, bisa menimbulkan kondisi fatal, bahkan menyebabkan kematian.
Antibiotik, oksigen, infus dan pernapasan bantuan mungkin diperlukan untuk membutuh bakteri yang menyerang penderita dan memperbaiki kondisi penderita.
Jika seseorang punya kontak dengan penderita Pes, mereka perlu diperiksa oleh dokter untuk melihat apakah terkena penyakit Pes atau tidak.
Dokter mungkin akan memberikan juga antibiotik untuk mencegah penularan penyakit Pes.
Cara mencegah penyakit Pes
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit Pes, selain menghindari kontak dengan penderita.
- Mengontrol populasi tikus dapat menurunkan risiko munculnya epidemi atau wabah Pes
- Vaksinasi untuk Pes sudah tersedia, tapi memang efektifitasnya belum meyakinkan
Mongolia Umumkan Kematian Seorang Remaja Akibat Wabah Pes, Meninggal Usai Makan Daging Marmut
Mongolia melaporkan kematian seorang remaja laki-laki karena bubonic plague atau wabah Pes.
Kematian ini diumumkan langsung oleh Menteri Kesehatan Negara Mongolia.
Dikutip dari Sky News pada Selasa (14/7/2020), seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun telah meninggal karena wabah Pes di Mongolia.
Pusat Nasional untuk Penyakit Zoonosis (NCZD) mengatakan remaja dari provinsi barat Govi-Altai itu telah meninggal karena makan daging marmut.
Karantina kini telah diberlakukan di 5 kabupaten di provinsi itu, yang berbatasan dengan China.
"Hasil tes reaksi rantai polimerase (PCR) mengungkapkan pada Senin malam bahwa wabah Pes menyebabkan kematian seorang remaja lelaki berusia 15 tahun," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Dorj Narangerel.
Kasus kematian ini menyusul kasus awal bulan ini dari 2 orang yang dinyatakan positif mengidap Pes di provinsi tetangganya, Khovd.
Atas munculnya beberapa kasus wabah Pes, NCZD saat ini menyelenggarakan program imunisasi nasional untuk menghentikan penyebaran penyakit.
Tahun lalu, lockdown diberlakukan di provinsi Bayan-Olgii, Mongolia, setelah dilaporkan ada pasangan yang meninggal akibat wabah Pes.
Setelah diselidiki, ternyata mulanya pasangan tersebut mengonsumsi daging marmut mentah.
Sementara di Rusia sedang meningkatkan patroli dalam upaya untuk menghentikan orang-orang berburu marmut di dekat perbatasannya dengan Mongolia.
China mengeluarkan peringatan pekan lalu setelah kasus yang diduga wabah Pes ditemukan di wilayah otonom Inner Mongolia.
Tidak ada vaksin untuk penyakit bakteri ini.
Wabah Pes ditularkan antara hewan melalui kutu mereka, dan manusia dapat terinfeksi oleh gigitan kutu atau melalui interaksi fisik dengan hewan yang terinfeksi.
Gejala dari penyakit yang dikenal sebagai " Black Death" di Abad Pertengahan ini, meliputi demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan merasa lemah.
Saran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah seorang dewasa dapat terselamatkan jika segera diobati dengan beberapa antibiotik, dalam jangka waktu kurang dari 24 jam setelah terinfeksi.
(*)
• China Laporkan Ekonomi Kuartal II Tumbuh 3,2 Persen Usai Buka Lockdown, Ini Penjelasannya
• Korea Utara Salahkan Komentar Amerika Serikat Soal Laut China Selatan, Gabung ke Kubu China?
• CHINA TERPOJOK Giliran Inggris Kirim Kapal Induk Tercanggih ke Pasifik, Gabung dengan AS dan Jepang
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Setelah Mongolia, Kini Penyakit Pes Ditemukan pada Seekor Tupai di AS".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/muncul-wabah-pes-di-china-warga-mongolia-dilarang-makan-hewan-marmot.jpg)