Jumat, 8 Mei 2026

Pemilih Bersuhu Lebih 37,3 Derajat Masuk Bilik Khusus, TPS Disemprot Disinfektan Secara Berkala

Perlakuan khusus diberikan kepada pemilih yang suhu tubuhnya lebih dari 37,3 derajat.

Tayang:
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional
Ketua KPU RI Arief Budiman 

Tahap akhir di TPS adalah pemberian tinta di salah satu jari sebagai penanda bahwa pemilih telah menggunakan haknya. Pemilih dapat keluar dari TPS dan kembali mencuci tangan sebelum kembali ke rumah.

Untuk menjaga keselamatan, pemilih diberikan sarung tangan yang digunakan pada saat mencoblos surat suara. Pemilih yang biasanya mencelupkan salah satu jari tangannya pada wadah tinta, pada masa pandemi ini KPPS akan meneteskan atau mengoleskan tinta dengan alat sekali pakai di salah satu jari pemilih. 

Gelar Simulasi di Daerah
KPU juga merencanakan akan melakukan beberapa kali simulasi di daerah dengan KPPS yang direkrut dari masyarakat setempat, serta pemilih yang terdaftar di TPS setempat.

Dalam simulasi tersebut, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto juga ikut hadir. Yuri memberikan arahan dan masukan terkait protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Covid-19.

Salah satunya, jumlah petugas penyelenggara pilkada di tempat pemungutan suara. Ia menyarankan, penggunaan tinta sebagai bukti telah menggunakan hak memilihnya dilakukan secara mandiri oleh pemilih dengan mencelupkan jari ke tinta, bukan diteteskan oleh petugas.

"Semakin banyak orang yang dilibatkan, semakin rentan. Oleh karena itu mungkin disiapkan saja kayak yang model lama yang dicelupkan. Tapi dari awal sudah kita sampaikan bahwa tidak akan menular melalui tinta. Virus ini hanya masuk ke orang lewat saluran napas, enggak lewat jari," ujar Yuri.

Ia juga menanggapi kekhawatiran Komisioner KPU RI terhadap penularan virus corona melalui jari yang dicelupkan ke tinta yang digunakan secara bersama-sama. Termasuk kekhawatiran apabila pemilih enggan memasukkan jarinya ke dalam tinta karena takut tertular virus.

Menurut Yuri, Covid-19 tidak akan masuk ke tubuh manusia melalui kulit, melainkan melewati saluran pernapasan. Dengan demikian, KPU dan pihak terkait seharusnya memberikan pemahaman dan sosialisasi hal tersebut.

"Makanya sejak awal kita jelaskan supaya kita tidak perlu nambah orang lagi. Saran saya sih begitu," kata Yuri.

Ia juga menyarankan agar penggunaan sarung tangan plastik untuk pemilih bukan menjadi satu-satunya cara menghindari penularan Covid-19. Dibandingkan penyediaan sarung tangan plastik, Yuri menyarankan KPU menggunakan alat coblos sekali pakai, misalnya berbahan bambu seperti tusuk sate.

"Karena TPS ada di seluruh wilayah tanah air, jangan sampai masalah ketersediaan sarung tangan menjadi penghambat. Salah satu saran saya alat coblosnya yang dibuat sekali pakai, misalnya pakai bambu semacam tusuk sate. Sekali pakai buang," kata Yuri. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved