Jumat, 8 Mei 2026

BATAM TERKINI

SISWA Batam Belajar Daring, Kini Guru Jadi Youtuber Orangtua Jadi Guru

Baru dua minggu sekolah mulai, sejumlah orangtua di Batam sudah banyak yang stres dan pusing. Pasalnya, orangtua harus aktif membantu anak belajar.

Tayang:
TRIBUNBATAM.id/ARGIANTO
Rais (11) saat melihat materi pelajaran IPS melalui smartphone saat proses belajar darling 

"Untuk guru juga berat. Kalau saat normal, siswa tidak selalu diberikan tugas setiap hari. Tapi saat ini setiap hari, walaupun itu tugas ringan. Memang pengumpulan sampai pukul 21.00 WIB. Tapi anak-anak satu hari tiga pelajaran," kata seorang guru di Karimun, Syafirzalman.

Para guru dan sekolah memang harus jungkir-balik untuk mengatasi masalah mereka dengan murid-muridnya. Untuk jadwal pelajaran, misalnya, dibuat lebih fleksibel.

Ada juga yang membuat paparan menggunakan YouTube, Facebook atau mengirimkan rekaman pelajaran melalui WhatsApp. Tujuannya, agar kekurangan pada jadal tatap muka yang pendek, bisa diulang lagi di rumah.

“Kini kami sudah jadi YouTuber. Tiap hari kami rekaman pelajaran untuk dikirimkan ke anak-anak. Memang terasa tidak lengkap karena tidak melihat wajah anak-anak kami, apakah mereka mengerti atau tidak materi yang kami ajarkan,” kata seorang guru SD Muhammadiyah Batam.

Sedangkan SMAN 4 Tanjungpinang, setiap guru mata pelajaran membuat video mata pelajaran. Video itu bisa diunggah di YouTube atau dibagikan lewat WhatsApp agar bisa dilihat kapan saja oleh siswa di rumah.

“Soalnya, aplikasi zoom dan webcam kan terbatas, hanya 20 menit saja. Itu kita manfaatkan untuk tanya-jawab dari video yang sudah dikirimkan,” katanya.

Sebaliknya, orangtua kini memiliki pekerjaan tambahan, sebagai guru bagi anak-anaknya. Sebab, belajar daring sama sekali tidak efektif akibat berbagai keterbatasan komunikasi guru dengan anak-anak.

Vina Oktoraviani, orangtua di Sekupang yang anaknya sekolah di SD Kartini, Sei Harapan mengatakan, ia tak bisa menemani anaknya belajar setiap pagi karena bekerja.

"Saya dan suami bekerja pagi sampai sore, anak-anak biasanya dititipkan ke nenek mereka," ujar Vina.

Untuk kelancaran anak belajar di rumah, Vina pun terpaksa menyiapkan fasilitas dengan biaya yang tidak sedikit.

Mulai dari memasang Wi-fi hingga membeli dua tablet untuk anaknya itu.

Di swasta lebih berat karena mereka harus bayar SPP penuh.

Kendala terbesar belajar daring, anaknya lebih sulit mencerna pelajaran. Akibatnya, ia harus mengulang kembali mengajarkan anak untuk memastikan anaknya mengerti.

“Untung saja anak saya masih SD, jadi bisalah kita membantu,” katanya.

Kesibukan orangtua memang semakin bertambah karena ia kini harus ikut belajar dengan anak-anaknya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved