TRIBUN WIKI
Menelisik Sejarah Sapi di Indonesia, Mulai Diimpor Tahun 1917
Pada 1917, pemerintah Hindia Belanda mengimpor sapi Ongole secara besar-besaran dari India.
Istilahnya “pewilayahan ternak”.
Usaha mengimpor sapi unggulan kembali dilakukan ketika Soeharto mendatangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri, terutama Australia.
Di Tapos, sapi-sapi tersebut hendak dikawinkan dengan sapi-sapi lokal Indonesia untuk mendapat bibit berjenis sapi unggul.
Taun 1978 merupakan tahun terakhir Indonesia mengekspor sapi potong dengan jumlah hanya 400 ekor.
Sejak saat itu, peternakan rakyat lebih banyak memasok kebutuhan daging dalam saja, bahkan keran impor daging dari Australia mulai dibuka.
Tapos tampaknya menginspirasi pengusaha ternak untuk melakukan impor bibit.
Tercatat mulai tahun 1990, Indonesia mulai melakukan impor sapi bakalan.
Menurut ahli peternakan dari Universitas Padjajaran, Sri Rahayu, impor sapi bakalan mulai dilakukan sejak tahun 1990 sejumlah 8.061 ekor.
12 tahun kemudian angka ini melonjak drastis hingga 429.615.
Karena krisis, pemerintah pernah mengurangi impor sapi bakalan pada 1997 sampai 2001.
Akibatnya sapi-sapi lokal terkuras oleh permintaan sehingga dalam kurun waktu yang singkat populasinya menurun drastis.
Pada 2002, Indonesia kemabli meningkatkan impor sapi bakalan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi.
Indonesia sangat bergantung dengan impor daging asal Australia.
Australia merupakan sumber dari 90,06 persen impor sapi hidup dan 46,70 persen impor daging sapi dan jeroan.
Selandia Baru merupakan sumber impor 32,52 persen daging sapi dan jeroan.
Negara-negara lain yang termasuk eksportir daging sapi ke Indonesia, dengan jumlah yang lebih kecil adalah Amerika Serikat dan Kanada.
Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul 'Sapi (Hewan Ternak)'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/sapi-yang-dibeli-presiden-jokowi-di-peternakan-milik-kuncoro-warga-desa-mranggen.jpg)