TRIBUN WIKI
Daging Kambing Dianggap Picu Hipertensi, Berapa Batas Aman Konsumsinya?
Di Indonesia selama ini berkembang anggapan bahwa daging kambing dapat menyebabkan hipertensi.
Semakin tinggi kadar kolesterol jahat di dalam tubuh, maka akan semakin rentan hipertensi menyerang.
Pasalnya, kolesterol jahat akan menumpuk di dalam tubuh, terlebih pada pembuluh darah.
Kolesterol ini akan membentuk plak, sehingga pembuluh darah bisa menyempit dan mengeras.
Dengan begitu, jantung harus bekerja ekstra karena pasokdan darah ke seluruh tubuh berkurang.
Oleh sebab itu, sangat penting bagi siapa saja bisa membatasi konsumsi daging untuk mencegah hipertensi, termasuk kolesterol tinggi.
Berdasarkan USDA, daging kambing, bisa mengandung 0,9 g lemak jenuh dalam 100 gram bahan.
Sementara, daging sapi menawarkan 6 gram lemak jenuh per 100 gram bahan, dan daging ayam mengandung 3,8 gram lemak jenuh per 100 gram bahan.
Jumlah kandungan lemak jenuh pada daging tersebut memang terbilang rendah jika dibandingkan dengan batas asupan lemak jenuh yang direkomendasikan untuk orang dewasa, yakni tidak lebih dari 20 gram per hari.
Namun perlu diingat, bahwa kandungan lemak jenuh pada daging bisa berubah seiring dengan proses pemasakan atau pengolahan.
Di Indonesia, banyak orang memasak daging dengan cara digoreng lebih dulu sebelum diolah lebih lanjut.
Daging juga kerap diolah dengan cara dipanggang atau dibakar.
Mengolah daging dengan cara-cara itu biasanya membutuhkan banyak minyak goreng, mentega, atau margarin yang akan berubah menjadi lemak, kemudian diserap oleh daging.
Belum lagi ada beberapa tambahan bumbu atau bahan lain yang bisa juga memicu hipertensi.
Sebut saja kecap, terutama kecap asin.
Kandungan natrium pada kecap yang tinggi dapat mengikat banyak cairan yang dialirkan bersama darah ke jantung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/masakan-daging-kambing_20150924_112839.jpg)