Rabu, 8 April 2026

Muncul Tornado Api, Kebakaran di Pegunungan Sierra Amerika Serikat Lahap 20.000 Hektar Hutan

Kebakaran hutan besar telah melanda tiga wilayah di pegunungan Sierra Nevada. Tak berhenti disitu, muncul pula tornado api saking besarnya kebakaran.

TRIBUNBATAM/AMINNUDIN
ILUSTRASI - Tornado api lahap 20.000 hektar hutan di Pegunungan Sierra Nevada AS. 

Editor: Putri Larasati Anggiawan

TRIBUNBATAM.id, TAHOE - Bencana alam tengah dirasakan salah satu pegunungan di Amerika Serikat ( AS).

Kebakaran hutan besar dikabarkan telah melanda tiga wilayah di pegunungan Sierra Nevada.

Tak berhenti disitu, muncul pula tornado api saking besarnya kebakaran yang terjadi.

Tornado api itu berhasil melahap puluhan ribu hektar hutan di sana.

Kebakaran yang dijuluki Loyalton Fire ini dimulai pada Jumat (14/8/2020) sekitar pukul 16.30 waktu setempat, di dekat Gunung Ina Coolbirth di Sierra County.

Kemudian pada Sabtu pagi (15/8/2020) api telah menghanguskan 2.000 hektar hutan di daerah tersebut.

Latihan Gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan Ditunda, Seorang Perwira Terinfeksi Covid-19

Menjelang sore kebakaran hutan mencapai sekitar 20.000 hektate dan menjalar ke beberapa wilayah seperti Sierra, Lassen, dan Plumas.

Api yang berkobar di tengah suhu tinggi dan angin kencang itu mengepulkan asap tinggi ke angkasa, dan terbentuk menjadi tornado api.

San Francisco Chronicle pada Sabtu (15/8/2020) melaporkan, kebakaran ini mirip sepeti insiden Carr 2018 di Redding.

Layanan Cuaca Nasional di Reno kemudian mengeluarkan peringatan tornado selama satu jam, tak lama setelah pukul 14.30.

Bisa dikatakan ini adalah kali pertama dinas cuaca mengeluarkan peringatan tornado untuk kebakaran hutan.

"Kami benar-benar tidak memiliki cara lain untuk situasi seperti itu," kata Wendell Hohmann ahli meteorologi untuk layanan cuaca.

"Kami memutuskan mengeluarkan peringatan tornado dan menekankan betapa pentingnya itu," ucapnya dikutip dari San Francisco Chronicle.

Hohmann melanjutkan, pembentukan tornado api dipicu oleh suhu tinggi dan ketidakstabilan atmosfer.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved