KEPRI TERKINI
Covid-19 di Kepri Meledak, Jumlah Kasus Berpacu di Batam, Bintan, Pinang
Dalam sepekan terakhir, corona juga menyerang sejumlah tenaga kesehatan di Batam, baik di RSUD Embung Fatimah dan sejumlah Puskesmas.
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Penyebaran Covid-19 di Provinsi Kepri dalam beberapa hari terakhir semakin mencemaskan karena kasus-kasus baru bermunculan, tiga wilayah, Kabupaten Bintan, Kota Tanjungpinang dan Kota Batam semakin memerah.
Di Bintan, misalnya, yang sempat mendapat predikat zona hijau, kini kembali memerah setelah bertambahnya 14 kasus baru virus corona dalam satu hari.
Pada Jumat (28/8) lalu, kasus terkonfirmasi positif secara akumulatif tercatat 43 orang.
Namun sehari setelahnya, jumlahnya menjadi 57 orang sehingga ada penambahan 14 kasus baru.
Jumlah itu bisa bertambah karena masih ada 20 orang lagi yang masuk dalam kategori suspek atau menunggu swab keluar.
Dari sejumlah kasus itu, ada tranamisi lokal, tetapi ada juga warga Tanjungpinang yang terkonfirmasi positif di Bintan.
Empat kasus terakhir, nomor 54-57 merupakan satu keluarga, warga Tanjungpinang.
"Dari 14 kasus baru ini, tujuh warga Bintan, selebihnya warga Tanjungpinang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bintan, dr Gama AF Isnaeni, Minggu (30/8/2020).
• Banyak Tenaga Kesehatan Terpapar Covid-19, RS Elisabeth Batam Kini Jadi Klaster Baru
• Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19 Diduga Picu Munculnya Klaster Baru di Batam
Sedihnya lagi, satu klaster di Bintan juga mengikuti trend Batam, yakni tenaga kesehatan.
Satu klaster terjadi di RSUD Bintan, ada tiga dokter tertular Covid-19.
Seperti diketahui, dalam sepekan terakhir, corona juga menyerang sejumlah tenaga kesehatan di Batam, baik di RSUD Embung Fatimah dan sejumlah Puskesmas.
Batam 18 Kasus
Di Kota Batam sendiri, dalam dua hari terakhir ada 72 kasus baru dan empat kecamatan kini berstatus zona merah. Terbanyak Jumat, pasien terkonfirmasi positif Covid-19 menunjukkan rekor baru, 54 orang.
Sehari setelahnya, Sabtu (29/8), ada 18 orang lagi terpapar. Sebanyak 11 orang pria dan tujuh lainnya perempuan.
Total pasien secara kumulatif kini sudah 617 orang, 374 sembuh dan 32 orang meninggal dunia. Sebanyak 211 orang saat ini menjalani perawatan di beberapa rumah sakit.
Menyedihkannya, sejumlah tenaga kesehatan di Kota Batam juga menjadi sasaran virus ini.
Ada sejumlah dokter, bidan, perawat hingga supir ambulans yang terpapar virus ini. Mereka tersebar dari berbagai fasilitas kesehatan, seperti RSUD Embung Fatimah hingga sejumlah Puskesmas.
Empat Puskesmas tutup, tetapi beberapa Puskesmas lainnya masih tetap melayani masyarakat meskipun ada tenaga kesehatan mereka yang positif Covid-19.
Setelah menutup pelayanan Poliklinik dan Istalasi Gawat Darurat setelah satu tenaga kesehatan positif, Jumat lalu, RSUD langsung melakukan swab terhadap puluhan karyawannya.
Direktur RSUD Embung Fatimah Ani Dewiyana kepada Tribun tadi malam mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil swab tersebut.
“Nanti akan dirilis oleh Dinkes atau Gugus Tugas,” kata Ani.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi menyebut, lonjakan kasus beberapa hari terakhir akibat menurunnya disiplin masyarakat menerapkan protokol kesehatan.
Didi mengatakan, akibat lonjakan pasien, empat kecamatan saat ini berstatus zona merah. Keempatnya adalah Kecamatan Sekupang, Kecamatan Nongsa, Kecamatan Batamkota, dan Kecamatan Seibeduk.
Kecamatan lain juga sebenarnya tidak aman. Lubukbaja, Bengkong, Sagulung dan Batuaji berstatus oranye atau satu tingkat di bawah merah.
Sedangkan status zona kuning tinggal menyisakan Kecamatan Batuampar. Dan zona hijau tiga kecamatan, yakni Belakangpadang, Bulang, serta Galang.
Tanjungpinang 19.
Perkembangan kasus signifikan juga terjadi di Tanjungpinang karena transmisi lokal atau penularan antarwarga semakin berkembang.
Pada Minggu (29/8/2020) kemarin, Plt Wali Kota Tanjungpinang Rahma selaku ketua Gugus Tugas merilis 19 kasus baru di kota itu sehingga totoalnya menjadi 169 kasus.
Seluruh kasus terjadi pada warga Tanjungpinang. Ada yang berdasarkan klaster lama, tetapi ada juga kasus baru yang belum diketahui klasternya atau tidak memiliki riwayat kontak dengan kasus sebelumnya.
Sebagian lagi adalah kasus impor karena memiliki perjalanan dari daerah lain.
Dari ekspose Rahma, kemarin, empat kasus tidak memiliki riwayat kontak, empat memiliki riwayat kontak dari kasus sebelumnya dan selebihnya kasus impor.
Dari kasus impor itu, enam orang satu keluarga, terkonfirmasi setelah melakukan perjalanan keluar daerah. Satu orang mempunyai riwayat perjalanan ke Pekanbaru dan satu orang dari Palembang.
Kadinkes Tanjungpinang Rustam mengatakan, dari seluruh kasus yang terjadi di ibukota Provinsi Kepri ini, sebanyak 64 kasus atau 38 persen merupakan kasus impor atau memiliki riwayat perjalanan dari daerah lain.
Sedangkan 96 kasus atau 57 persen merupakan transmisi lokal.
Namun, dari seluruh kasus yang terjadi di Kepri, dalam sepekan terakhir, sebagian besar berstatus OTG (orang tanpa gejala).
Artinya, orang yang terlihat sehat namun di tubuhnya ternyata ada virus. Di Pinang sendiri, kata Rustam, 118 kasus atau 70 persen merupakan kasus tanpa gejala.
Fenomena ini tentu saja semakin memprihatinkan. Bahkan, untuk menghindari munculnya klaster baru di lingkungan pemerintahan, Pemko Batam kembali menerapkan work from home (WFH) bagi seluruh ASN di lingkungan Pemko Batam mulai Senin (31/8/2020) hari ini.
Sikap menganggap enteng dari sejumlah masyarakat terhadap virus ini juga mulai ada yang berlebihan.
Klaster Tiban, Sekupang, misalnya, merebak dari penjemputan paksa jenazah positif Covid-19 dari rumah sakit. Sudah puluhan orang yang terpapar dari klaster ini.
Bahkan ada di antaranya yang memperlihatkan perilaku buruk, dengan menelan ludah jenazah tersebut dan mengusapkannya ke wajah dan berperilaku seolah-olah menantang petugas di RSKI Galang saat dikarantina. (dra/ian/blt/dna/als/hsu)