Breaking News:

China Jumawa dan Dikenal Banyak 'Musuh', Bagaimana jika Negara Punya Masalah dengan Tiongkok?

Dari banyak musuh China, Norwegia adalah salah satu negara yang pernah mengalami hubungan memanas dengan China

Instagram: @realxijinping
Presiden China, Xi Jinping. Ada banyak negara di dunia berkonflik dengan China, salah satunya adalah Norwegia. 

Pemerintah Australia sudah mengeluarkan peringatan perjalanan ke China bulan Juli dengan peringatan jika warga Australia bisa saja ditahan tanpa alasan jelas.

ASPI mengatakan, China menggunakan kebijakan "tekanan" sebanyak 152 kali sejak tahun 2010, terhadap 27 negara, termasuk Uni Eropa.

VIRAL Foto Pelajar Cari WiFi Demi Sekolah Online Lesehan di Pinggir Jalan

Laporan tersebut mengatakan adanya peningkatan penggunaan kebijakan tersebut sejak tahun 2018.

"Pola yang dilakukan hampir sama," kata Emilia Currey, penulis laporan sekaligus peneliti di ASPI.

"Awalnya dimulai dengan ancaman yang dikeluarkan negara dan bila tindakan itu tidak dihentikan oleh negara sasaran, maka pembatasan perdagangan akan dilakukan, atau pembatasan kedatangan turis atau investasi, dan berlangsung sampai negara itu mengubah kebijakannya."

Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam pandangan ASPI, Australia tidaklah harus melakukan sesuatu untuk bisa memperbaiki hubungan dengan China dengan mengorbankan nilai yang sudah ada.

Lembaga itu menyarankan, semua negara yang menghadapi tekanan dari China bersama-sama bersatu dalam berbagai forum internasional dan kompak menghadapi China.

Tindakan yang bisa dilakukan antara lain mengeluarkan pertanyaan bersama, sanksi ekonomi atau pembatasan perjalanan.

Presiden China, Xi Jinping
Presiden China, Xi Jinping (Instagram: @realxijinping)

Lembaga pemikir itu juga menyarankan, agar Aliansi Intelejen Five Eyes yang terdiri dari Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat bisa membentuk pakta keamanan ekonomi bersama.

Artinya, jika China melakukan tekanan terhadap salah satu negara mitra, maka bisa melakukan aksi ekonomi atau diplomatik terhadap China.

Laporan itu juga memperingatkan kepada para pelaku usaha untuk mulai memikirkan risiko melakukan bisnis di China, melihat Beijing semakin sering menggunakan tekanan belakangan ini.

"Memperbaiki hubungan tidaklah memberi jaminan ini tidak akan terjadi lagi di masa depan," kata Emilia.

Ketika ditanya mengenai sanksi yang diterapkan China bulan Juni, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, pemerintah tidak ingin cepat memperbaiki hubungan dengan mengorbankan prinsip yang ada.

Penambahan Kasus Positiv Covid-19 di Batam, 14 Orang Dinyatakan Positif

"Kami adalah negara yang menganut perdagangan terbuka.

Saya tidak mau mengorbankan nilai ini menghadapi tekanan yang datang dari siapa saja," katanya.

Namun akademisi University of Melbourne, Sow Keat Tok memperingatkan agar Australia berhati-hati, setelah melihat kasus terbaru penahanan wartawan Australia, Cheng Lei di Beijing.

"Ini tindakan balas membalas, dan kita tidaklah mau ini meningkat lebih buruk dari sekarang, jadi akan bermanfaat bila Canberra menurunkan tensi dalam pernyataan mereka," katanya kepada ABC.

Jelang Timnas U-19 Indonesia vs Bulgaria, Shin Tae-yong Intip Kekuatan Lawan Lewat Video

Dr Tok mengatakan, bukan berarti Australia harus takut menghadapi China tapi berhati-hati dalam keterlibatan dengan diplomasi lewat pernyataan saling menyerang di media.

"Kita memang harus berhati-hati dalam berhubungan dengan China.

Saya kira kita tidak harus mengorbankan nilai kita dengan melakukan diplomasi diam-diam."

.

.

.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kalau Punya Masalah dengan China, Apa yang Harus Dilakukan Sebuah Negara?

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved