Breaking News
Kamis, 23 April 2026

NEWS WEBILOG TRIBUN BATAM

Susah Sinyal Ganggu Kuliah Daring, Ini Keluhan dan Saran Mahasiswa di Kepri

Ainun bilang, keterbatasan jaringan menjadikan mahasiswa sulit untuk memahami materi dan tugas yang diberikan

Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
News Webilog Tribun Batam menghadirkan Ainul Mutaqhoro, Mahasiswi Tarbiyah STAIN Sultan Abdurrahman Kepri dan Simeon Seneng Mahasiswa STIE Bentara Batam sebagai pembicara 

Setelah mendengar bahwa Kemendikbud akan membagikan kuota gratis untuk peserta didik, Ainun juga berharap Kemenag dapat membantu kampus-kampus yang berada di bawah naungan Kemenag bisa mendapatkan bantuan serupa.

"Ya harapannya kami juga bisa merasakan bantuan yang sama. Karena kami juga memiliki keterbatasan yang sama dengan mahasiswa di luar sana. Beberapa mahasiswa yang bekerja harus kehilangan pekerjaannya selama pandemi, biaya-biaya kuota tentu juga salah satu faktor kesulitan saat ini," terangnya.

Menurutnya, kondisi cuaca juga mempengaruhi kualitas jaringan. Sehingga butuh waktu untuk dapat beradaptasi dengan sistem belajar mengajar yang baru untuk di Indonesia.

"Intinya cukup kompleks untuk seseorang yang memiliki keterbatasan jaringan serta ruang dan waktu. Beberapa teman yang berada di pulau dalam satu hari terpaksa untuk berangkat ke kota untuk mengerjakan tugas, dan itu juga menambah biaya selama belajar daring," ungkapnya.

"Pengaruh ke nilai mungkin nilai menjadi meningkat karena tidak dipersulit juga selama daring ini. Namun secara pemahaman materi justru menjadi menurun," tambahnya.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Simeon Seneng. Menurutnya hambatan jaringan dapat menimbulkan rasa ketidaktertarikan mahasiswa terhadap belajar daring.

"Kalau sinyal tak bagus, jadi terlambat untuk mengikuti pelajaran akhirnya justru menimbulkan rasa malas dan tidak tertarik dengan proses belajar tersebut sehingga timbul rasa bosan," tuturnya.

Meskipun begitu, ia menilai sisi positif belajar daring membuat mahasiswa pekerja merasa terbantu. Sebab dapat mengkuti pembelajaran dimana saja tanpa harus pergi ke kampus hingga memakan waktu yang cukup lama.

"Biasanya kalau pulang kerja langsung ke kampus, mungkin ada yang lelah seharian bekerja sementara jarak antar kantor menuju kampus cukup jauh sehingga menambahkan rasa lelah tapi semenjak daring, belajar bisa dilakukan di rumah sambil rehat. Sedikit mengurangi beban mahasiswa yang bekerja sambil kuliah,"ungkapnya.

Ia mengaku, dia tidak mampu beradaptasi dengan sistem perkuliahan online sehingga nilai akademisnya menurun.

"Saya dan teman-teman juga banyak dapat nilai E sebab kuliah online tidak menambah soft skill kami. Bahkan materi dirasa kurang dapat dipahami dibandingkan belajar seperti biasanya," jelasnya.

Ainul dan Simeon sepakat untuk mendukung adanya perkuliahan secara offline atau konvensional seperti biasanya. Sebab keilmuan selama belajar daring tidak didapatkan secara maksimal dibandingkan sistem belajar yang sebelumnya.

"Kalau boleh saran, kembali saja dengan sistem perkuliahan seperti biasa, hanya saja protokol kesehatannya diperketat agar kami juga bisa menambahkan soft skill kami yang tidak kami dapatkan selama kegiatan belajar secara daring," pungkas Simeon.

(TRIBUNBATAM.id/Rebekha Ashari Diana Putri)

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved