Donald Trump Dihujat, Demo di Capitol Hill Tewaskan 1 Orang

Presiden AS Donal Trump berkali-kali mengeklaim, tanpa disertai bukti, bahwa dia seharusnya menang dalam Pilpres AS namun dicurangi

AFP/MANDEL NGAN
Presiden AS Donald Trump 

TRIBUNBATAM.id - Hujatan ramai ditujukan kepada Donald Trump dari dalam dan luar Negeri Paman Sam.

Berkali-kali mengklaim dicurangi dalam Pemuli AS tanpa menunjukkan bukti, ia dianggap banyak tokoh Amerika Serikat (AS) sbagai biang kerok kerusuhan.

Massa demonstrasi di Gedung Capitol yang menewaskan satu orang, berusaha merangsek masuk gedung parlemen pada Rabu sore waktu setempat (6/1/2020).

Seorang pendukung Donald Trump berdiri di depan aparat keamanan yang menjaga Gedung Capitol tempat anggota Kongres Amerika Serikat menggelar sesi untuk menyertifikat Presiden terpilih Joe Biden, Rabu (6/1/2021) malam atau Kamis pagi WIB.
Seorang pendukung Donald Trump berdiri di depan aparat keamanan yang menjaga Gedung Capitol tempat anggota Kongres Amerika Serikat menggelar sesi untuk menyertifikat Presiden terpilih Joe Biden, Rabu (6/1/2021) malam atau Kamis pagi WIB. (AFP/SPENCER PLATT /GETTY IMAGES NORTH AMERICA)

Di saat bersamaan Kongres AS bertemu guna melakukan agenda mengesahkan hasil Dewan Elektoral tentang kemenangan Joe Biden.

Dalam beberapa kesempatan, Trump sudah menyerukan kepada pendukungnya menyerbu Gedung Capitol guna menghentikan kemenangan Biden.

Baca juga: Media China Sebut Kerusuhan Massa Trump di Capitol Hill Sebagai Pemandangan yang Indah

Baca juga: Rusuh di Gedung Capitol Hill, 4 Eks Presiden AS Kompak Hujat Donald Trump

Baca juga: Mencekam, Pendukung Trump Pajat Pagar & Terobos Gedung Capitol, Joe Biden: Ini Pemberontakan

Presiden 74 tahun itu berkali-kali mengeklaim, tanpa disertai bukti, bahwa dia seharusnya menang dalam Pilpres AS namun dicurangi.

Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump (AFP/MANDEL NGAN)

Pemimpin serikat buruh Richard Trumka menyatakan, kerusuhan dalam demo AS ini adalah serangan terbesar terhadap demokrasi terbesar sejak Perang Saudara (1861-1865).

"Upaya kudeta hari ini (Rabu) terjadi karena selama bertahun-tahun, Trump menyebarkan racun konspirasi, kebencian, dan kebohongan ke pendukungnya," tegasnya.

CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon juga menyalahkan sang presiden, meski tidak menyebut namanya secara langsung, dikutip AFP Kamis (7/1/2021).

Baca juga: Usai Kalah dalam Pilpres AS, Donald Trump Dikabarkan Jadi Lebih Pendiam

Baca juga: Ada yang Berubah dari Donald Trump Usai Pilpres AS, Ramai Dibahas Warganet Negeri Paman Sam !

Baca juga: Masih Tak Terima Kekalahan, Trump Tuntut Penghitungan Ulang Suara di Georgia

"Pemimpin kita bertanggung jawab menghentikan kekerasan, menerima hasil pemilu, dan mendukung transisi kekuasaan sesuai tradisi demokrasi kita yang berusia ratusan tahun."

DPR AS yang berasal dari partai Trump, Republik, juga ikut mengecam atas unjuk rasa yang membuat para politisi dievakuasi.

Pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkumpul di depan Gedung US Capitol di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Hari pengesahan kemenangan presiden terpilih Joe Biden oleh Kongres di Gedung Capitol diwarnai penyerbuan massa pendukung Donald Trump dalam upaya menggagalkan anggota parlemen dari tugas konstitusional mereka.
Pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkumpul di depan Gedung US Capitol di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Hari pengesahan kemenangan presiden terpilih Joe Biden oleh Kongres di Gedung Capitol diwarnai penyerbuan massa pendukung Donald Trump dalam upaya menggagalkan anggota parlemen dari tugas konstitusional mereka. (Kompas.com/(ANTARA FOTO/REUTERS/STEPHANIE KE))

Anggota Kongres Mike Gallagher mengunggah video di Twitter, di mana dia mengungkapkan tengah berlindung di kantornya.

Gallagher mengatakan massa menyerbu Gedung Capitol dan terlibat bentrok dengan kepolisian saat berupaya menembus Statutory Hall.

"Ini adalah sampah Republik Pisang yang kita lihat saat ini," ujar Gallagher dalam videonya seperti diwartakan Daily Mail.

Baca juga: Bacakan Pidato Natal, Trump: Sampai Jumpa Empat Tahun Lagi

Baca juga: Donald Trump: Biden Bisa Masuk Gedung Putih Jika Mampu Buktikan 80 Juta Suara Diperoleh Secara Sah

Baca juga: Janji Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih Setelah Kemenangan Joe Biden Disahkan, Sikapnya Tetap

Republik Pisang merujuk pada istilah di mana sebuah negara mengalami kondisi politik dan pemerintahan yang tidak stabil.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved