Minggu, 26 April 2026

HUMAN INTEREST

Kisah Evie Sulap Kerang Jadi Cendera Mata Bernilai Ekonomis hingga Dilirik Negeri Jiran

Evie bilang untuk membuat satu cendera mata dari bahan kerang membutuhkan waktu yang berbeda-beda dan tergantung tingkat kerumitannya

Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Roma Uly Sianturi
Kisah Evie sulap kerang jadi cendera mata bernilai ekonomis hingga dilirik negeri jiran. Foto perajin kerang Evie dan barang kerajinan tangannya 

"Saat itu saya pergi ke pantai yang tidak jauh dari Jembatan Barelang, Kecamatan Galang. Di sana saya melihat istri-istri nelayan tengah menunggu suami mereka balik dari melalut.

Saya datang menghampiri dan meminta kepada mereka untuk mengumpulkan kerang dan menjualnya kepada saya," ujarnya.

Ia meminta nelayan untuk mengumpulkan kerang lala, dara, tiger, siput sedot, koleksi, waji, jagung (corn), kima, melo, tritip, dan masih banyak lagi.

Kerang-kerang ini selanjutnya dibersihkan dan dipotong sesuai kebutuhan untuk membuat satu produk kerajinan.

"Saya menggunakan alat potong yang sekarang mulai dimodifikasi dan diproduksi sendiri. Tapi selama proses itu, banyak yang gagal, karena ukuran kerang yang kecil," ungkap perempuan kelahiran 25 Juli 1959 ini.

Evie mengakui untuk membuat satu produk kerajinan tangan membutuhkan waktu yang berbeda-beda dan tergantung tingkat kerumitannya.

Misalnya untuk cendera mata seperti pensil hanya butuh waktu 15-30 menit. Sementara untuk lukisan dinding bisa memakan waktu hingga tiga bulan.

Tak hanya itu, cangkang kerang juga diolah menjadi produk lain. Mulai dari gantungan kunci, tas, dompet, lampu hias, asbak, bingkai foto, kotak tisu, bros, hiasan dinding, bunga hingga konektor masker yang belakangan ini cukup viral di kalangan hijabers sebagai pengikat masker.

"Karena pandemi mewajibkan kita memakai masker, jadi saya mencoba membuat masker menggunakan hiasan kerang. Hitung-hitung agar usaha tetap produktif. Sebab selama pandemi ini pesanan cukup menurun," tuturnya sembari tersenyum.

Ibu satu anak ini mengaku, kerajinan tangan ini mengharuskan untuk tetap produktif. Mengingat roda perekonomian nelayan juga karyawan harus tetap berputar.

"Meskipun saya merumahkan karyawan, tapi tetap mencoba memberikan insentif meskipun tidak sebesar hari biasanya," katanya.

Untuk harga cendera mata tersebut, Evie menyebutkan beragam dan tergantung kerajinan tangannya. Misalnya untuk gantungan kunci atau cendera mata berupa pensil atau pulpen, dipatok mulai Rp 15 ribu.

Sedangkan untuk hiasan dinding dijual antara Rp 300 ribu hingga Rp 12,5 juta. Biasanya harga tersebut mengikuti bentuk karya.

Semakin lama pengerjaan dan tingkat kerumitan sebuah produk, maka harga pun semakin mahal.

Sementara ditanya soal omzet, Evie cukup tertutup. Namun menurutnya jika permintaan banyak pasti akan berdampak pada pendapatan.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved