Breaking News:

BATAM TERKINI

Harga Cabai Rawit di Batam Tak Lagi 'Pedas'? Turun Rp 30 Ribu Per Kilogramnya

Harga cabai rawit di Batam khususnya di Pasar Tos 3000 sempat menembus angka Rp 120 ribu per kilogramnya.

Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng
Harga Cabai Rawit di Batam Tak Lagi 'Pedas', Turun Rp 30 Ribu Per Kilogramnya. Foto warga Batam saat memilih cabai di Pasar Tos 3000, Kota Batam, Provinsi Kepri, Selasa (19/1/2021). 

Wanita 33 tahun itu juga merinci harga cabai setan yang naik Rp 2 ribu per kilogramnya menjadi Rp 92 ribu.

Beberapa ibu rumah tangga sedang membeli cabai di pasar Tos 3000 Batam
Beberapa ibu rumah tangga sedang membeli cabai di pasar Tos 3000 Batam (TRIBUNBATAM.id/Ronnye Lodo Laleng)

Sementara harga cabai hijau naik Rp 5 ribu menjadi Rp 90 ribu per kilogram.

Susi menyebut, Harga cabai di Batam melambung karena aktivitas teansportasi yang kurang lancar ke Batam karena kondisi cuaca.

"Sedangkan harga cabai merah masih normal, cuma naik Rp 5 ribu mkarena pengirimannya melalui kapal laut," sebutnya.

Naiknya harga cabai jelas dikeluhkan Warga Batam, Husni misalnya.

Ibu rumah tangga berumur 27 tahun itu menyayangkan Harga cabai di Batam melambung.

Ia mengaku harus mengeluarkan biaya lebih jika mau membeli cabai dan beberapa sembako lainnya.

"Kadangkala kami sekeluarga memutuskan untuk tidak mengonsumsi cabai, saking mahalnya.

PASAR TOSS 3000 - Seorang pedagang cabai sedang melayani pembeli, Minggu, (29/11/2020) pagi. Harga sejumlah cabai di Pasar Toss 3000 ini melonjak naik. TribunBatam/Ronnye Lodo Laleng.
PASAR TOSS 3000 - Seorang pedagang cabai sedang melayani pembeli, Minggu, (29/11/2020) pagi. Harga sejumlah cabai di Pasar Toss 3000 ini melonjak naik. TribunBatam/Ronnye Lodo Laleng. (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)

Semoga saja Pemko Batam bersama dinas terkait sepat mengatasi persoalan ini.

Kasian Warga Batam yang saat ini susah mencari uang, di saat pandemi Covid-19 ini," sebutnya.

Harga Sayur di Batam Naik

Tidak hanya Harga cabai di Batam melambung, harga sayur di Batam sebelumnya juga dikeluhkan emak-emak.

Penyebabnya apalagi kalau bukan karena harganya yang mengalami kenaikan.

Keluhan ibu rumah tangga ini setidaknya dialami yang tinggal di Kecamatan Batuaji dan Sagulung.

Menurut mereka, harga sayur di pasar melonjak hingga 100 persen dari harga normal.

Selain harganya yang naik tak wajar, ketersediaan sayur juga susah dicari.

Naiknya harga sayur di Batam di antaranya bayam, kangkung kacang panjang.

Saat ini harga bayam sebesar Rp 20 ribu per kilogramnya.

Awal Tahun 2021, Harga Sayur di Pasar Tos 3000 Naik Dua Kali Lipat. Foto penjual sayur di Pasar Tos 3000, Jodoh, Kota Batam, Provinsi Kepri, Rabu (6/1/2021).
Awal Tahun 2021, Harga Sayur di Pasar Tos 3000 Naik Dua Kali Lipat. Foto penjual sayur di Pasar Tos 3000, Jodoh, Kota Batam, Provinsi Kepri, Rabu (6/1/2021). (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)

Sementara untuk kangkung dijual Rp 18 ribu serta kacang panjang Rp 25 ribu perkilogramnya.

"Ini harganya sangat luar biasa. Sudah harganya naik langka lagi.

Sekalinya ada kondisi sayurnya tak bagus, ucap seorang warga perumahan di Tanjunguncang, Tuti, Rabu (13/1/2021).

Dia mengatakan bayam selama ini harganya selalu di bawah Rp 10 ribu.

Warga lainnya, Lusi mengaku miris dengan kondisi harga tersebut.

Harga cabai pun menurutnya masih tetap tinggi. Dia berharap pemerintah bisa menekan harga bahan dapur yang terjadi dipasaran.

"Ini semua harga naik, tidak tahu lagi mau masak apa di rumah untuk keluarga.

Emak-emak di Batam Menjerit, Harga Sayur Naik Dua Kali Lipat. Foto kondisi di Pasar Fanindo, Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepri, Rabu (13/1/2021).
Emak-emak di Batam Menjerit, Harga Sayur Naik Dua Kali Lipat. Foto kondisi di Pasar Fanindo, Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepri, Rabu (13/1/2021). (TribunBatam.id/Ian Sitanggang)

Daging ayam pun ikut naik, semua harga bahan dapur naik.

Saat ini kondisi perekonomian juga sulit, kalau semua naik, mau makan apa lagi nanti," kata Lusi.

Kelompok Tani Sidomulyo Gagal Panen Sayur

Awal Tahun 2021 jadi awal yang pahit bagi Kelompok Tani Sidomulyo, Tembesi, Kota Batam, Provinsi Kepri.

Aneka sayur yang mereka tanam sejak Desember 2020 busuk.

Berniat mendulang untung dari hasil panen, mereka harus pasrah karena kondisi gagal panen akibat hujan berkepanjangan di Kota Batam.

Kondisi gagal panen tidak hanya dialami satu petani saja.

Ketua Kelompok Tani Sidomulyo, Yusuf mengaku hampir seluruh petani sayur gagal panen.

Menurutnya, sayur dari perkebunan ini merupakan salah satu pemasok ke sejumlah pasar di Kota Batam.

"Kami tak bisa berbuat banyak, ini kondisi alam," sebut Yusuf kepada TribunBatam.id, Rabu (13/1/2021).

Yusuf mengetahui jika kondisi gagal panen mereka bakal berdampak pada langkanya sayur di sejumlah pasar di Kota Batam.

Harga sejumlah sayuran di Batam naik akibat tingginya permintaan.
Harga sejumlah sayuran di Batam naik akibat tingginya permintaan. (TRIBUNBATAM.id/Ronnye Lodo Laleng)

Ini mulai dirasakan pada sejumlah warga di Kecamatan Batuaji dan Sagulung.

Gagal panen yang dirasakan para petani membuat harga sayur mayur, khususnya bayam, kangkung dan kacang panjang jadi mahal di pasar.

"Karena kami tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Apa yang dirasakan oleh masyarakat kami juga merasakannya.

Masyarakat sulit mendapatkan sayur, kami juga merugi karena tidak bisa balik modal," kata Yusuf.

Yusuf menceritakan gagal panen yang dialami petani sayur, karena kondisi tanaman mereka banyak yang rusak dan busuk akibat hujan berkepanjangan.

Menurutnya, sayur yang ditanam sejak pertengahan Desember 2020, sudah bisa dipanen dalam waktu 20 sampai 25 hari.

"Namun karena hujan, sayurnya tidak bagus. Hujan yang berkepanjangan membuat daun sayur rusak terkena cipratan pasir dari air hujan.

Pertumbuhan sayur pun tidak maksimal bahkan membusuk karena kelebihan air.

Harga sayuran di Batam menjelang tahun baru 2020 terus naik
Harga sayuran di Batam menjelang tahun baru 2020 terus naik (TRIBUNBATAM.ID/ARDANA NASUTION)

Walaupun ada yang bisa dipanen, hal itu tidak sesuai dengan yang diharapkan," ungkapnya.

Meski demikian, dia juga mengaku masih bersyukur karena para petani masih diberikan kesehatan untuk beraktivitas.

Selama ini kata Yusuf, mereka selalu bisa memenuhi permintaan pasar, dan sudah memetik hasil dari buah pekerjaan yang mereka lakukan.

"Kami bersyukur, semua pekerjaan ada resikonya, kita harus sabar. Mungkin hari ini tidak berhasil tetapi hari depan pasti berhasil.

Kalau satu tahun kita mengalami satu kegagalan, itu hal ya g sangat wajar, hal itu harua menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik," kata Yusuf.(TRIBUNBATAM.id/Ronnye Lodo Laleng/Ian Sitanggang)

Baca juga berita Tribun Batam di Google

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved