Selasa, 14 April 2026

Kisah Kecamuk Perang Jawa: Suratan Tragis Sang Pangeran

Kecamuk Perang Jawa ini bukan karena pelebaran jalan yang memangkas tanah Pangeran, seperti diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah dasar

Editor: Mairi Nandarson
national geographic
Kisah Kecamuk Perang Jawa yang pernah diterbitkan National Geographic 

TRIBUNBATAM.id - Hamparan persawahan menghijau yang dikepung perbukitan karst di Desa Dekso ternyata menjadi lokasi bersejarah di masa lalu.

Di lokasi itu kawanan serdadu Belanda yang menjajah Indonesia pernah dijebak di habisi.

"Inilah bekas ladang pembantaian," ujar Ki Roni Sodewo sembari hamparan persawahan menghijau itu.

Lelaki kurus itu berdiri di tepian jalanan beraspal yang berkelok menuju kaki sebuah bukit.

Sembari menunjuk bukit di depan kami, dia berujar, "Dipanagara dan prajuritnya berada di bukit itu."

Desa itu pernah menjadi markas besar kakek moyangnya pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826.

Dia berkisah, di sekitar tempat kami berdiri, sekawanan serdadu Hindia Belanda Timur pernah terjebak.

Baca juga: Jepang Harus Bayar Kompensasi 12 Wanita Korea Jadi Budak Seks Tentara Jepang Saat Perang Dunia II

Mereka tewas dibantai laskar Dipanagara yang muncul tiba-tiba dari arah bukit dan lembah sungai di belakang kami, demikian menurut tradisi tutur warga Kulonprogo, barat Yogyakarta.

Nama sejatinya adalah Roni Muryanto Budi Santoso, keturunan ketujuh Pangeran Dipanagara.

Sebagian turunan Sang Pangeran terserak di sisi barat Kali Progo, da­erah ge­rilya selama Perang Jawa. Kini, mereka melakoni hidup sebagai petani, guru, hingga pejabat pemerintah setempat.

Demi mempersatukan kerabatnya yang tercerai-berai dan tak sa­ling kenal, dia mendirikan Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro (IKPD) sejak tujuh tahun silam. 

Gambaran penyerangan kediaman Pangeran Dipanagara oleh Belanda, 20 Juli 1825, pemicu Perang Jawa. Lukisan koleksi Museum Sasana Wiratama, Yogyakarta.
Gambaran penyerangan kediaman Pangeran Dipanagara oleh Belanda, 20 Juli 1825, pemicu Perang Jawa. Lukisan koleksi Museum Sasana Wiratama, Yogyakarta. Budi ND Dharmawan

Awal musim kemarau tahun ini, saya dan Ki Roni menapaki jalanan berliku di sepanjang tepi barat Kali Progo hingga kaki perbukitan Menoreh yang terjal.

Kawasan yang sampai sekarang masih bertajuk hutan ini pernah menjadi pusat kekuatan dan medan pertempuran kakek moyangnya.

Jika Dipanagara menjadikan perbukitan sekitar Kulonprogo ini sebagai lumbung pangan mereka, sekarang daerah ini berkembang sebagai salah satu kawasan agropolitan di Provinsi Yogyakarta.

Kakek moyang Ki Roni itu lahir di Keputren Keraton Yogyakarta pada Jumat Wage sekitar jam setengah lima pagi, 11 November 1785.

Baca juga: Menelusuri Wisata Sejarah di Belakang Padang Batam, Miliki Kantor Polisi Kolonial Belanda

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved