Kisah Kecamuk Perang Jawa: Suratan Tragis Sang Pangeran
Kecamuk Perang Jawa ini bukan karena pelebaran jalan yang memangkas tanah Pangeran, seperti diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah dasar
Bayi lelaki itu bernama Bendara Raden Mas Mustahar.
Anak dari pasangan putra sulung Sultan Hamengkubuwana II—yang kelak pada 1812 bertakhta sebagai Sultan Ketiga—dan istri tak resminya, Raden Ayu Mangkarawati.
Konon, orang yang lahir pada Jumat Wage biasanya banyak bicara, namun hal yang dibicarakan tepat.
Kelahiran kala fajar juga kerap dikaitkan dengan sosok peneroka zaman.
Saat remaja, pada akhir 1805, namanya berganti menjadi Raden Antawirya.
Gelar Pangeran Dipanagara disandangnya pada 1812.
Pangeran itu memberikan pemaknaan atas namanya sebagai seorang yang menyebarkan pencerahan dan kekuatan bagi sebuah negara.
“Dipanagara itu bukan nama orang,” ungkap Ki Roni.
“Itu adalah gelar kepangeranan yang dipakai oleh para putra raja pada zaman dahulu.”

Peta sebagian Pulau Jawa: Latar Belakang Perang 1825-1830 oleh L.M. Lange, publikasi 1840. Dia adalah mayor Nederlandsch Indisch Leger dari Ridder der Militaire Willems Orde. KITLV
Babad Dipanagara yang tersimpan di Perpustakaan Nasional merupakan autobiografinya dalam aksara pegon (Arab gundul).
Ditulis ketika pengasingannya di Fort Amsterdam, Manado.
Namun, naskah yang saya saksikan itu bukan aslinya. A.B. Cohen Stuart, ahli sastra Jawa kuno, menyalinnya pada 1860-an.
Sayang, naskah asli yang disimpan keturunan Pangeran di Makassar itu sudah hancur.
Kabar baiknya, salinan ini diakui UNESCO sebagai Memory of the World pada Juni 2013.
Dalam tembang macapat, babad bercerita jujur tentang pribadi Dipanagara yang berbudaya dan beragama Islam-Jawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kisah-kecamuk-perang-jawa-yang-pernah-diterbitkan-national-geographic.jpg)