Kisah Kecamuk Perang Jawa: Suratan Tragis Sang Pangeran
Kecamuk Perang Jawa ini bukan karena pelebaran jalan yang memangkas tanah Pangeran, seperti diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah dasar
Lebih jujur ketimbang buku biografi politisi sekarang yang konon penuh pencitraan.
Sekitar empat kilometer sebelah selatan Dekso, kami singgah di Desa Nanggulan.
Pada musim hujan 1828, Belanda pernah mendirikan benteng besar di sini.
Kami menjumpai makam serdadu Belanda yang berselubung semak di sudut permakaman desa.
Ki Roni membersihkan semak yang menutupi prasasti nisan dengan sabit kecil.
Namanya, Kapten Hermanus Volkers van Ingen.
“Seharusnya, meskipun milik musuh, kita harus merawatnya. Makam ini merupakan bagian sejarah,” ujar Ki Roni prihatin. “Kasihan Van Ingen.”
Seorang peneliti menemukan buku harian Kapten Errembault de Dudzeele et d’Orroir di pasar loak tepian Seine, Prancis.
Errembault yang pernah bertugas bersama Van Ingen di Yogyakarta kala Perang Jawa, mengisahkan kemalangan koleganya.
Kini, buku harian itu tersimpan di perpustakaan École Française d’Extrême Orient, Paris.
“Kapten Van Ingen dan 32 serdadu Eropa tewas dalam pertempuran,” tulis Errembault.
Dia melanjutkan, “juga seorang pangeran Yogyakarta yang telah meninggalkan para pemberontak dan telah mengabdi pada pihak kami selama setahun terakhir—bersama 12 prajuritnya.
Empat belas orang turut terluka.
Kedua meriam milik detasemen berhasil jatuh ke tangan musuh, namun hal itu tidak berlangsung lama.”
Demikian kisah tragis Van Ingen pada 28 Desember 1828.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kisah-kecamuk-perang-jawa-yang-pernah-diterbitkan-national-geographic.jpg)
