Minggu, 3 Mei 2026

8 Negara Ini Terlilit Utang Terbesar ke China, Diprediksi Terancam Bangkrut

Waduh! 8 Negara Ini Terlilit Utang Terbesar ke China, Diprediksi Terancam Bangkrut.

Tayang:
afp
UTANG - Waduh! 8 Negara Ini Terlilit Utang Terbesar ke China, Diprediksi Terancam Bangkrut. FOTO: Presiden China Xi Jinping 

TRIBUNBATAM.id - Waduh! 8 Negara Ini Terlilit Utang Terbesar ke China, Diprediksi Terancam Bangkrut.

Tentu bukan hal baru lagi jika China dikenal sebagai salah satu pemberi utang bagi beberapa negara.

China memiliki sebuah agenda besar bernama Belt and Road Initiative (BRI) atau yang dikenal dengan Sabuk dan Jalan China.

Proyek ini memungkinkan China untuk mengucurkan dana hingga 8 triliun dollar AS dalam proyek infrastruktur di seluruh Eropa, Asia dan Afrika.

Namun, menurut Center for Global Development, proyek ini menimbulkan kekhawatiran pada negara yang didanainya.

Presiden China Xi Jinping

Studi itu mengevaluasi tingkat hutang dari 68 negara yang menjadi tuan rumah proyek BRI China.

Ditemukan ada 23 negara yang berisiko mengalami kesulitan utang saat ini.

Bahkan di antara 23 negara tersebut ada 8 negara yang di antaranya dalam kondisi mengkhawatirkan dan bisa terancam bangkrut.

Delapan negara ini berisiko tinggi karena memiliki proporsi utang luar negeri cukup tinggi pada China dan Bank di China.

Bahkan jika terus menerus dilakukan, mereka bisa berakhir dalam jebakan utang China, berikut 8 negara tersebut seperti dikutip dari The Print.

Baca juga: CHINA Memang Kuat, Tapi Tak Bisa Kalahkan Amerika di Laut China Selatan, Joe Biden Punya Triknya !

Baca juga: Jadi Ancaman Global, Virus Nipah di China Berpotensi jadi Pandemi Baru, Gejala Mirip Flu

Baca juga: Koruptor China Dieksekusi Mati, 100 Gundiknya Tinggal di 1 Perumahan, Duit Tunai Korupsinya 30 Ton

1. Pakistan

Pakistan sejauh ini menjadi negera paling berisiko terkait utangnya ke China.

Negara ini tercatat memproyeksikan tambahan utang senilai 62 miliar dollar AS.

Adapun 80 persen dari total utang Pakistan adalah dari China.

Ditambah proyek-proyek BRI yang besar dan suku bunga yang relatif tinggi yang dikenakan oleh China menambah risiko kesulitan utang Pakistan.

2. Djibouti

Menurut data terbaru IMF, negara ini memiliki risiko yang cukup tinggi terkait pinjaman dari China.

Tercatat hanya dalam dua tahun, utang luar negeri publik telah meningkat dari 50 menjadi 85 persen dari PDB.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara berpenghasilan rendah.

Sebagian besar utang terdiri dari utang perusahaan publik yang dijamin pemerintah dan berhutang kepada China Exim Bank.

Baca juga: 5 Senjata Canggih China yang Mungkin Akan Digunakan Jika Terpaksa Menghadapi Perang

Baca juga: Sombong, KOLONEL CHINA Remehkan Militer AS! Sebut Mission Impossible Tahan Ambisi Mereka Soal Ini

Baca juga: Militer China Dulu Tak Ada Apa-apanya, Ternyata Perang Teluk Mengubah Mereka Jadi Lebih Hebat

3. Maladewa

China sangat terlibat dalam tiga proyek investasi paling menonjol di Maladewa.

Seperti peningkatan bandara internasional yang menelan biaya sekitar 830 juta dollar AS.

Selain itu, pengembangan pusat populasi baru dan jembatan dekat bandara yang menelan biaya sekitar 400 juta dollar AS juga menggunakan dana dari China.

Terakhir, dana China juga digunakan untuk relokasi bandara pelabuhan utama (tanpa perkiraan biaya).

Negara ini dianggap oleh Bank Dunia dan IMF berisiko tinggi mengalami kesulitan utang dan saat ini sedang dilanda gejolak politik dalam negeri.

4. Laos

Laos, salah satu negara termiskin di Asia Tenggara, memiliki beberapa proyek terkait BRI.

Proyek terbesarnya adalah, kereta api China-Laos senilai 6,7 miliar dollar AS, yang mewakili hampir setengah dari PDB negara itu.

Hal itu membuat IMF memperingatkan bahwa proyek tersebut mungkin mengancam kemampuan negara untuk membayar utangnya.

Baca juga: China Tembak Mati Pejabatnya yang Lakukan Korupsi dan Hubungan Terlarang, Langsung Dieksekusi

Baca juga: China Dikepung! Susul Inggris, Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut Cina Selatan, Blokade Xi Jinping

5. Mongolia

Kemakmuran ekonomi Mongolia di masa depan bergantung pada investasi infrastruktur yang besar.

Menyadari situasi sulit di Mongolia, Bank Exim China setuju pada awal 2017 untuk memberikan pembiayaan di bawah jalur kredit senilai 1 miliar dollar AS dengan tarif lunak untuk proyek pembangkit listrik tenaga air dan proyek jalan raya.

Jika laporan tambahan kredit sebesar 30 miliar dollar untuk proyek-proyek terkait BRI selama lima sampai sepuluh tahun ke depan benar, maka prospek gagal bayar di Mongolia sangat tinggi, terlepas dari sifat lunak pembiayaannya.

6. Montenegro

Bank Dunia memperkirakan bahwa utang publik sebagai bagian dari PDB akan naik hingga 83 persen pada 2018.

Sumber masalahnya adalah satu proyek infrastruktur yang sangat besar, jalan raya yang menghubungkan pelabuhan Bar dengan Serbia yang akan berintegrasi dengan jaringan transportasi Montenegro dengan negara-negara Baltik lainnya.

Otoritas Montenegro membuat perjanjian dengan China Exim Bank pada tahun 2014 untuk membiayai 85 persen dari perkiraan biaya 1 miliar dollar AS.

Untuk tahap pertama proyek, dengan tahap kedua dan ketiga kemungkinan besar akan menyebabkan default jika pembiayaan tidak diberikan dengan persyaratan yang sangat lunak.

Baca juga: 5 Negara Termiskin di Dunia Sepanjang Tahun 2020, Hidup Prihatin dan Kelaparan

Baca juga: 5 Negara Terkecil di Dunia, Luasnya Lebih Sempit dari Batam

Baca juga: Termasuk Korea Utara, Inilah Daftar Negara Terkorup di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

7. Tajikistan

Salah satu negara termiskin di Asia, Tajikistan telah dinilai oleh IMF dan Bank Dunia berada pada "risiko tinggi" dari kesulitan utang.

Meski begitu, pihaknya berencana menambah utang luar negeri untuk membiayai investasi infrastruktur di sektor kelistrikan dan transportasi.

Utang ke Cina, adalah kreditor tunggal terbesar Tajikistan, menyumbang hampir 80 persen dari total peningkatan hutang luar negeri Tajikistan selama periode 2007-2016.

8. Kyrgyzstan

Kyrgyzstan adalah negara yang relatif miskin dengan proyek infrastruktur terkait BRI yang signifikan, sebagian besar dibiayai oleh utang luar negeri.

Bank Exim China adalah kreditor tunggal terbesar, dengan pinjaman yang dilaporkan pada akhir 2016 berjumlah1,5 miliar dollar AS, atau sekitar 40 persen dari total utang luar negeri negara.

Meskipun saat ini dianggap memiliki risiko kesulitan utang yang 'sedang', Kyrgyzstan tetap dianggap rentan.

Baca juga: Fantastis! Inilah 7 Negara Terkaya di Dunia, Ada yang Tak Punya Sumber Daya Alam

Baca juga: Mesir hingga China, Inilah 7 Negara Tertua di Dunia, Simpan Nilai Sejarah dan Peradaban

Baca juga: Kesulitan Air dan Sanitasi Rendah, Inilah 5 Negara Termiskin di Dunia Tahun 2020

Utang Indonesia

Berdasarkan data statistik utang luar negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis Bank Indonesia (BI) periode terbaru, yakni per September 2019 menurut negara pemberi kredit, utang Indonesia yang berasal dari China tercatat sebesar 17,75 miliar dollar AS atau setara Rp 274 triliun (kurs Rp 13.940).

Posisi utang Indonesia terhadap China ini meningkat tipis dibandingkan per Agustus 2019 yang mencatatkan utang sebesar Rp 17,09 miliar dollar.

China sejak beberapa tahun belakangan menjadi salah satu negara penyumbang terbesar untuk Indonesia atau saat ini berada di posisi keempat.

Negara pemberi kredit terbesar Indonesia masih ditempati Singapura dengan jumlah pinjaman sebesar 66,49 miliiar dollar AS, disusul Jepang 29,42 miliar dollar AS, Amerika Serikat 22,46 juta dollar AS.

Total keseluruhan utang luar negeri Indonesia per September 2019 sebesar 202,31 miliar dollar AS.

Masih di periode yang sama, jika dirinci lebih lanjut, utang Indonesia terbagi dalam utang pemerintah sebesar 194,35 miliar dollar AS dan utang yang berasal dari Bank Indonesia tercatat 2,78 miliar dollar AS.

Sementara utang luar negeri yang berasal dari sektor swasta yang dicatat Bank Indonesia yakni 198,49 miliar dollar AS.

(*)

Sumber: Intisari  dan Kompas

Baca berita terbaru lainnya di Google!

Sumber: Grid.ID
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved