KISAH PERANTAU DI BINTAN
Kisah Pasutri Asal Cirebon Bertahan Hidup dengan Jual Gorengan saat Pandemi di Bintan
Pasutri asal Kota Cirebon Provinsi Jawa Barat, Mutiyah (34) dan Subakri (35) sudah 7 tahun tinggal di Bintan. Kini mereka bertahan hidup jual gorengan
Penulis: Alfandi Simamora | Editor: Dewi Haryati
BINTAN, TRIBUNBATAM.id - Segala upaya dilakukan seseorang untuk mengubah nasib dan menemukan kehidupan baru untuk menyambung hidup dan mengejar masa depan yang lebih baik.
Salah satunya dengan cara merantau.
Ya merantau, sebuah kata yang mungkin terdengar biasa tapi tak mudah menjalaninya.
Apalagi ketika di perantauan mengalami hal-hal yang kadang tak terduga. Sungguh tidak mudah hidup di tempat yang jauh dari kampung halaman.
Hal itulah yang dialami pasangan suami istri (pasutri) asal Kota Cirebon Provinsi Jawa Barat, Mutiyah (34) dan Subakri (35).
• KISAH Abdul Latif, Meski Tak Punya Tangan, tak Menyerah Tawarkan Keripik dari Rumah ke Rumah
• Kisah di balik Lagu Terpesona yang Viral, Penciptanya Bahagia karena Di-Like Artis Yura Yunita
Mereka mengadu nasib mencari kehidupan baru hingga ke Bintan.
Sebelum ke Bintan, ternyata mereka sudah ke beberapa daerah lain untuk mencari kehidupan lebih baik.
Mereka pernah ke Jambi, Bengkulu, Lampung bahkan ke Bangka hingga terakhir menetap di Bintan hampir 7 tahun lamanya.
Mutiyah menuturkan, sebagai istri ia hanya bisa mendukung suaminya untuk bersama-sama merantau dan mencari kehidupan baru di sejumlah daerah yang telah mereka lalui.
Ia mengakui, perjuangan mereka dari titik nol hingga saat ini memang sangatlah berat dalam mengarungi kehidupan.
Pasalnya, segala pekerjaan sudah dilakoni suaminya dan dirinya. Yakni mulai dari bekerja serabutan, berdagang bakso keliling, jualan gorengan, tukang, beternak hingga terakhir berdagang gorengan di Bintan.
"Segala pekerjaan sudah suami saya lakukan bersama saya, dan alhamdulillah hingga kini kami bisa mencukupi kebutuhan ekonomi kami di perantauan. Walaupun memang hanya berdagang gorengan," terang Mutiyah, Senin (8/2/2021).
Mutiyah menyebutkan, mengapa mereka sampai ke Bintan mengadu nasib, awalnya suaminya diajak bekerja sebagai pekerja borongan di salah satu proyek bangunan di Bintan.
Dari Bangka, mereka mengadu nasib ke Bintan pada 2013 lalu. Dengan berjalannya waktu bekerja sebagai tukang, suaminya pun selesai bekerja di sana dan mulai bekerja di salah satu usaha ternak di daerah Kawal.
Bekerja di sana beberapa tahun, suaminya berhenti dan mulai membuka usaha gorengan yang memang salah satu kemampuan dan keinginan suaminya.