Breaking News:

HUMAN INTEREST

Kisah Guru Tunanetra di Tanjungpinang, Dedikasikan Diri untuk Mengajar Siswa Bernasib Sama

Dari pengalaman hidupnya selama menjalani pendidikan, Zulfahmi bertekad mendedikasikan dirinya menjadi guru bagi siswa tunanetra

Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Dewi Haryati

TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Bekerja dengan hati yang ikhlas dan menjalani profesi karena panggilan jiwa menjadi satu hal yang dapat dipetik untuk ditiru dari kisah Zulfahmi.

Meski dengan kondisi fisik yang terbatas, sikap pantang menyerah dalam menjalani kehidupan layaknya manusia normal dapat dilihat dari kegigihannya.

Nasib malang dialami Fahmi kecil saat usianya menginjak satu tahun, mata kirinya sakit dan tidak dapat disembuhkan. Tak sampai di situ, Fahmi pun harus rela kehilangan mata kanannya lagi akibat terkena tembakan batu dari ketapel. Hingga membuat kedua matanya tak dapat melihat hingga saat ini.

Hal itu sempat membuat laki-laki kelahiran, Sumatera Barat, 15 November 1975 ini depresi dan mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat. Hingga pada suatu waktu datang seseorang yang bernasib sama dengannya (tunanetra-red), memberikan harapan baru untuk bangkit dan semangat kembali menjalani hidup.

Untuk membuktikan kesungguhannya dalam menimba ilmu dan hidup layak seperti manusia normal lainnya, Fahmi menempuh pendidikannya di sekolah umum.

Baca juga: Soal Guru Honorer Jadi PPPK, Komisi I DPRD Tanjungpinang Gelar RDP, Ini Pembahasannya

Baca juga: SIAP-SIAP, Maret 2021 Pemerintah Buka Rekruitmen 1,3 Juta Calon ASN, 1 Juta Khusus Guru

Walau di awalnya sempat mendapat penolakan dari beberapa guru, dengan tekad dan bantuan alat perekam ia dapat menunjukkan prestasinya di sekolah.

"Dalam kelas itu selebihnya orang melihat semua, hanya saya yang tuna netra. Alhamdulillah saya dapat juara 3 besar walaupun sempat ditolak oleh guru-guru karena kondisi saya dirasa dapat merusak citra sekolah saat itu.

Tapi setelah saya buktikan akhirnya guru-guru dan teman-teman dapat menerima keberadaan saya," ujar ayah dari empat anak ini, Selasa (2/3/2021).

Zulfahmi, guru tunanetra yang mengajar di SLB Negeri 1 Tanjungpinang saat menjelaskan metode pengajarannya dengan menggunakan huruf braille melalui komputer perekam suara, Selasa (2/3/2021)
Zulfahmi, guru tunanetra yang mengajar di SLB Negeri 1 Tanjungpinang saat menjelaskan metode pengajarannya dengan menggunakan huruf braille melalui komputer perekam suara, Selasa (2/3/2021) (tribunbatam.id/Noven Simanjuntak)

Berkat pengalaman hidupnya selama menjalani pendidikan, ia bertekad bulat untuk mendedikasikan dirinya menjadi guru bagi siswa yang senasib dengannya.

Tak cukup sampai di situ, suami dari Eva Fitra ini juga melanjutkan pendidikan strata satunya di Bandung dengan mengambil jurusan PLB. Berhasil lulus di tahun 2005, Fahmi sempat menganggur dan mengamen.

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved